Senin, 24 Oktober 2022

Kupatahkan Kedzaliman Ayah Tiri Part 2


 PART 2

Kudengar suara cukup gaduh. Perlahan kubuka mata. Ibu muda di sebelahkupun sudah mulai membereskan barang-barang dan mainan anaknya yang agak berantakan.

 

“Rumahnya dimana Dek?” pertanyaan Sang ibu membuyarkan sedikit lamunanku.

“Saya Geyer, Bu…” Jawabku sembari tersenyum kecil.

 

“Oh lumayan jauh ya Dek. Ibu cuma deket pasar sini aja. Ayo beres-beres. Sebentar lagi bus masuk terminal,” ucapnya lagi sembari menggendong anak perempuannya yang kutaksir masih di bawah tiga tahun.

“Nggeh Bu…” jawabku kemudian.

 

Aku ikut sibuk membereskan camilanku yang masih banyak dan novel kesayanganku yang belum rampung aku baca. Kebiasanku dari dulu saat di dalam bus adalah ngemil atau baca buku. Kalau tidak, aku biasanya akan mual. Kalau malas ngemil dan baca biasanya aku molor.

 

Ya begitulah. Aku tak terbiasa ngobrol panjang lebar dengan teman sebangku. Entahlah, memang aku tipe orang yang pendiam. Aku lebih senang menjadi pendengar daripada pendongeng. Mungkin karena itulah teman-temanku menjadikan aku tempat curhat.

 

Sesekali kasih nasehat meski seringkali tak didengar. Aku sungkan kalau harus basa-basi duluan. Tapi seringnya kalau sudah diajak ngobrol dan nyambung, aku sering kebablasan. Jiwa pendiamku tinggal kenangan. Hehee…

 

Suasana di luar bus masih cukup sepi dan sejuk karena belum terlalu ramai lalu lalang kendaraan. Tulisan besar di pintu masuk Terminal Purwodadi sudah terlihat di depan mata. Para penumpang sibuk dengan tas ataupun koper mereka. Tak lupa kardus-kardus besar entah apa isinya. Seolah menjadi ciri khas pemudik. 

 

Aku tak ingat jam berapa mulai terlelap lagi. Yang jelas setelah istirahat sebentar untuk sholat subuh tadi, bus kembali melaju. Setelah bus berhenti, semua penumpang antri untuk turun dari bus, termasuk aku. Aku sengaja turun belakangan karena tak mau berdesak-desakan.

 

“Dek, Ibu turun duluan ya,” pamit Ibu muda di sampingku. Aku mengangguk pelan sembari tersenyum.

 

Jarum jam menunjuk angka 6 lebih 30 menit saat aku menunggu bus lagi untuk mengantarkanku ke Geyer. Geyer adalah salah satu kecamatan di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan penuh cinta oleh ibu dan kakekku. Sebelum akhirnya badai itu datang dalam hidupku.

 

Aku tinggal di sebuah desa yang agak jauh dari hingar-bingar kota. Desa yang sangat sejuk dan asri. Banyak pohon jati dan mahoni yang tumbuh di desaku. Bahkan jalan menuju desaku ini masih ada hutan yang penuh dengan pohon jati yang begitu rimbun. Jika malam tanpa pencahayaan memadai kecuali kerlip sang rembulan ataupun kedipan bintang di langit.

 

Seperti itulah… sebuah desa di mana begitu banyak menyimpan kenangan. Kenangan bersama Mbah kakung, satu-satunya laki-laki yang selalu menumpahkan cintanya untukku. Cucu pertamanya. Masih jelas kuingat semua nasehat-nasehatnya sebelum aku pergi merantau pertama kali, 4 tahun yang lalu.

 

“Jakarta kotanya ramai Ndok. Kamu harus bisa jaga diri. Apalagi kamu sendirian di sana. Gak ada sanak saudara.”

 

“Ada Budhe Lasmi, Kung…” jawabku membesarkan hatinya. Aku tak ingin Mbah Kakung terlalu mengkhawatirkanku.

 

“Lasmi kan kerja sama orang. Gak mungkin juga bisa mengawasi kamu setiap waktu” kata Mbah kakung lagi.

 

“Jangan terlalu mengkhawatirkan Lia, Kung. InsyaAllah Lia bisa jaga diri. Lia akan selalu ingat pesan-pesan Mbah Kakung. Yang paling penting Mbah Kakung jangan minum teh manis banyak-banyak. Nanti bisa makin parah sakitnya” Kucium kedua pipi keriputnya.

Kulihat Kakung sedikit terkekeh. Tampak giginya yang hanya tinggal berapa biji. Mbah kakungku memang sakit diabetes. Beliau tak suka minum air putih. Setiap hari minum teh manis dengan gelas jumbo andalannya. 

 

Suara itu kembali kudengar. Omelan itu....

 

"Orang-orang yang dari Jakarta biasa sampai rumah jam 6 atau jam 7 pagi. Ini sudah jam 7 lewat kamu belum juga nongol. Jangan keluyuran! Urusin dulu biaya pemakaman Mbahmu."

 

"Maaf Yah... kemarin bisnya telat berangkat. Ini Lia juga sudah naik bis jurusan Solo kok Yah. Tapi masih nge-tem di simpang lima" jawabku pelan. Berharap Ayah menerima penjelasanku.

 

"Halahhh.. banyak alasan. Kamunya saja yang lelet, pakai alasan bisnya telat berangkat"

 

Mataku kembali berkaca-kaca. Hatiku dag-dig-dug tak karuan. Kutahan air mataku agar tak jatuh.

 

Bis yang kutumpangi masih saja nge-tem di simpang lima Purwodadi. Yang jelas, memang kebiasaan bus ini nge-tem di sini puluhan menit, sebelum bus lainnya datang menyusul.

 

"Cepetan pulang. Inget, jangan keluyuran!"

 

Sambungan telfon putus sepihak. Ayah yang memutuskannya. Kuhembuskan napas pelan. Mulai detik ini, aku memang  harus mempersiapkan diri dan hati untuk kembali menerima caciannya kembali. 

 

***************

Selengkapnya di KBM APP



Kupatahkan Kedzaliman Ayah Tiri Part 2


Continue reading

Kupatahkan Kedzaliman Ayah Tiri Part 1

 



(Terinspirasi dari kisah seseorang)

 

PART 1

 

Orang bilang kebanyakan ibu tiri itu sangat kejam. Dia tak bisa menerima anak tirinya sepenuh hati. Seolah hanya mau menerima cinta ayahnya tapi tak ingin mengurus anaknya. Bahkan banyak sekali sinetron yang menayangkan kekejaman ibu tiri. Namun sedikit kutemui judul sinetron yang mengisahkan tentang kekejaman ayah tiri. Padahal yang kurasakan justru sebaliknya.

Ibuku terlalu baik pada anak tirinya. Mbak Sari, anak pertama ayah dari perkawinannya dengan istri pertama. Meski aku memanggilnya Mbak, namun usia kami tak jauh berbeda. Hanya terpaut kurang lebih empat bulan lebih tua dariku.

 

Pada anak tirinya, Ibuku tak pernah membentak, tak pernah melontarkan kata-kata pahit apalagi menyakiti fisik dan batinnya. Jikalaupun Mbak sari menolak perintah ibu, Ibu tak pernah sekalipun marah. Ibu hanya istigfar pelan dan menyuruhku menggantikan tugasnya. Selalu begitu selama hampir tujuh tahun lamanya. Sejak kami sama-sama duduk di kelas empat sekolah dasar hingga kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan sejak itupun aku selalu mengalah, aku tak ingin menyakiti hati ibu lebih dalam.



Aku tahu ibu terluka, karena tak pernah dianggap ada oleh anak tirinya. Namun Ibu hanya diam. Tak pernah sekalipun mengeluh atau menceritakan sakitnya itu pada ayah. Akupun tak pernah bertanya kenapa ibu tak memaksanya. Kenapa Ibu tak memarahinya. Atau kenapa ibu hanya diam dan pergi saat mbak sari menolak mentah-mentah perintahnya.

Yah, aku sudah tahu jawabannya. Ibu terlalu menghormati ayah. Ibu tak ingin ayah marah seperti waktu itu. Ayah marah besar hanya karena ibu memaksa Mbak sari bangun pagi untuk sholat subuh. Ayah bilang gak perlu dipaksa, nanti kalau sudah dewasa akan tahu sendiri apa kewajibannya. Ayah dan ibu memang berbeda jalur dalam mendidik anak-anaknya.

 

Sejak saat itu, ibu tak pernah memaksa Mbak sari. Apalagi berulangkali ayah bilang, ingin selalu memanjakan Mbak sari. Dia tak ingin melihat Mbak sari menangis apalagi menyesali hidupnya. Dia tak ingin melihat Mbak sari kembali terpuruk dan mengingat kematian ibunya yang tragis. Oleh sebab itulah ayah berusaha menjaga hati Mbak sari agar selalu bahagia. Ayah selalu menuruti kemauan Mbak sari. Meski terkadang kemauannya itu melukai hatiku.

 

Kebanyakan orang bilang, semua masalah hidupku terjadi karena kekeliruanku sendiri. Mereka bilang, aku salah memilih ayah pengganti. Mereka bilang, aku terlalu cepat menerima dia sebagai pendamping ibuku. Padahal ibu berulangkali bertanya padaku kala itu apakah aku yakin.

Ah… bocah sembilan tahun mana bisa berpikir panjang. Yang mereka tahu, kebahagian nyata saat itu. Tak pernah ada pikiran-pikiran buruk ataupun kata seandainya dalam hatinya. Yang jelas, terlalu mudah untuk merayu dan mengambil hati bocah seusia itu.

 

Orang-orang tak pernah tahu, bagaimana senangnya hatiku saat ada laki-laki yang dekat dengan ibu. Laki-laki yang selalu datang dengan kado-kado istimewa di tangannya hanya untukku. Selalu membawakan makanan-makanan kesukaanku. Seringkali mengajakku jalan-jalan ke kota dan membeli mainan baru.

Mereka tak paham, bagaimana senangnya aku mendapatkan kasih sayang seorang laki-laki yang nantinya bisa kusebut ayah. Kasih sayang yang tak pernah aku rasakan sepanjang hidupku.

 

Mereka tak akan pernah mengerti bagaimana tersiksanya aku, saat kulihat teman-temanku diantar jemput sekolah oleh ayah-ayah mereka. Ataupun saat kulihat mereka mencium punggung tangan ayah-ayah mereka sebelum masuk kelas.

Mereka tak tahu bagaimana aku harus berusaha menahan air mataku agar tak tumpah saat teman-temanku menceritakan kehebatan ayah mereka. Saat menceritakan cinta kasih ayah-ayah mereka.

 

Orang-orang itu tak akan paham, bagaimana perasaanku saat kulihat teman-temanku diajak ayah mereka membeli sepeda baru.

Mereka tak akan pernah paham bagaimana isi hatiku, betapa bangganya aku mendapatkan kasih sayangnya kala itu. Hingga akhirnya aku bisa menceritakan pada teman-temanku bagaimana calon ayahku. Mereka semua antusias mendengarkan. Karena baru pertama kali aku menceritakan sosok calon ayah pada mereka. Mereka menjabat tanganku erat dan mengucapkan selamat. Ucapan selamat yang kemudian hanya menjadi awal kemalangan hidupku.

 

“Sudah kubilang kau tak perlu masuk SMP Lia! Masih ngeyel pula. Tak sudi aku membiayaimu sekolah mahal-mahal. Biarkan Sari saja yang sekolah. Kamu cukup lulus SD dan kerja. Lebihbaik cari duit daripada buang-buang duit.” kulihat mata ayah memerah menatapku. Air mataku luruh seketika.

 

Entah sudah berapakali dia membentakku. Dia memang jarang melukai fisikku, hanya beberapa kali menampar pipiku saat kemarahannya memuncak. Salah satunya saat aku tak sengaja memecahkan jam tangan hello kitty kesayangan Mbak Sari.   Meski jarang melukai fisikku, namun hampir setiap hari dia selalu melukai hatiku.

 

Sebenarnya aku sudah tak sanggup dan ingin sekali pergi dari rumah ini, namun lagi-lagi aku terlalu menyayangi ibu, kakek dan adik laki-lakiku. Adik satu-satunya dari pernikahan ibu dan ayah tiriku.

 

Tiap kali aku meminta ibu untuk melanjutkan sekolah, tiap itu juga ayah marah. Aku tak tahu kenapa laki-laki yang harusnya kusebut ayah itu begitu membenciku. Seolah begitu jijik melihatku.

Ayah selalu memakiku dengan sebutan anak bandel, tak tahu diri. Padahal aku bukan anak pembangkang. Aku tak pernah membantah perintahnya. Aku selalu patuh dan menuruti kemauannya. Namun apapun yang kulakukan, seolah selalu salah di matanya. Dia tetap tak terima. Dia tetap sering memaki. Dan dia tetap membenci. Sikapnya benar-benar berubah, sejak kulihat dia dan ibu menggenggam surat nikah waktu itu.

 

“Mau kau suruh kerja apa Lia kalau hanya lulus SD, Gung? Aku ingin Lia sekolah sampai sarjana. Mengangkat derajat orangtuanya. Menjadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Dan….” belum selesai Mbah kakung mengeluarkan isi hatinya, kudengar suara gebrakan meja. Vas bunga di atas meja itu jatuh berantakan di lantai.

 

Kupeluk tubuh Mbah kakung yang mengeriput. Kulihat dia mengelus dada. Kemudian menepuk-nepuk bahuku perlahan.

 

“Memangnya bapak mau membiayai Lia sekolah? SMP itu biayanya mahal Pak. Apalagi harus membiayai dua orang sekaligus. Darimana biayanya! Toko sembakoku sudah ludes dilahap api sialan itu. Hutang di bank untuk modal belum juga lunas. Harusnya kalian bersyukur masih bisa makan dan tidur nyenyak di rumah ini. Jangan ngelunjak. Dikasih hati minta jantung juga!”

Mbah kakung menarik lenganku ke teras rumah. Bola matanya berkaca-kaca. Dia terus merangkulku untuk menenangkan. Padahal sejatinya aku tahu, justru hati Mbah kakunglah yang jauh lebih tak tenang. Hati Mbah Kakunglah yang jauh lebih terluka.

 

Aku masih menahan isakku. Aku tak ingin Mbah kakung lebih terluka jika melihatku menitikkan air mata.

Kulihat Ibu bersandar di sofa ruang tamu sembari mengASIhi adikku yang belum genap dua tahun. Ibu hanya diam. Pandangannya kosong menatap ke luar rumah. Kudengar pintu kamar terbuka. Mbak sari berjalan ke arah ayah yang masih sibuk dengan rokoknya.

 

“Nggak capek yah? Tiap hari marah-marah? Sudahlah yah, lebihbaik cerai saja. Biarkan mereka keluar dari rumah ini. Gara-gara ayah nikah lagi semua usaha ayah bangkrut. Hutang makin menumpuk. Bahkan sekarang, Sari sudah tak bisa beli baju-baju kekinian lagi. Bosen yah pakai baju itu-itu terus…” celoteh Mbak sari terdengar cukup keras di telingaku. Atau mungkin sengaja diperkeras? Entahlah… usianya memang baru 12 tahun. Tapi kata-kata yang dia ucapkan seringkali sudah seperti berusia duapuluh tahunan. Sadis dan menyakitkan.

 

“Pulang dulu ya Nduk. Mbah kakung sedo,” sms dari ibu dua jam yang lalu kembali kubaca. Entah sudah berapa kali aku membaca sms itu.

Sungguh, aku masih tak percaya dan tak rela jika secepat ini Mbah kakung meninggalkanku. Aku masih tak percaya jika pada akhirnya Mbah kakung benar-benar pergi. Dan aku harus bisa menata hati dan siap menerima deretan caci maki itu sendiri.

 

Mataku kembali berkaca-kaca. Mengingat Alm mbah kakung yang begitu menyayangiku. Dia yang begitu memanjakanku dengan caranya yang sederhana.

Sejak aku kecil, belum pernah sekalipun Mbah kakung membentakku. Seusil dan sebandel apapun aku. Mbah kakung selalu tersenyum dan membelai rambutku pelan.

Mbah kakung selalu bilang,”Jadi anak sholehah ya Nduk… patuh sama ibumu. Dia sudah berjuang sekuat tenaga untuk membesarkanmu.”

 

Air mataku kembali mengalir deras, mengiringi laju bus yang aku tumpangi detik ini.

 

Aku belum siap jika Mbah kakung pergi hari ini. Aku belum siap menerima kembali caci maki dari laki-laki itu lagi. Aku belum siap menyimpan semua sumpah serapahnya sendirian. Aku masih sangat membutuhkan  Mbah kakung dalam hidupku. 

Selama ini, tak ada seorangpun yang membelaku dari cacian laki-laki itu kecuali Mbah Kakung. Bahkan Ibupun hanya menangis dalam diam saat kata-kata buruk laki-laki itu menusuk tajam ulu hatiku. Ibu hanya diam, tak membelaku pun tak membelanya. Seolah ibu sudah mati rasa. Tak tahu bagaimana caranya menghiburku ataupun menghentikan mulut suaminya yang kotor itu.


***

Selengkapnya di KBM APP

Kupatahkan Kedzaliman Ayah Tiri part 1


Continue reading

Novel : KUPATAHKAN KEDZALIMAN AYAH TIRI

 


Sinopsis

Orang bilang, Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Namun bagiku, Ayah adalah awal goresan-goresan luka yang tak pernah ada ujungnya. Banyak kisah luka yang begitu mendalam, dan semoga kisah ini dapat menginspirasi untuk kita ambil hikmah di dalamnya.

Continue reading

Tangis Ibu Part 8 karya NawankWulan tayang full di KBM APP

 


TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 8
 
{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
 
 
Pov : Mbak Diana 
 
 
"Mbak Din ... Ibu kangen sama Mbak, tolong datang ke rumah sekarang, ya? Mumpung weekend dan mbak nggak kerja. Dari kemarin ibu nanyain mbak Diana tapi kubilang tunggu libur kerja dulu. Kasihan ibu selalu nanyain dan nungguin mbak di teras rumah tiap jam pulang kerja. Sepuluh atau dua puluh menit saja juga nggak apa-apa yang penting ditengok, ibu juga sudah lega dan bahagia," ucap Rima beberapa hari yang lalu saat ditelepon. 
 
 
 
Aku iyakan saja daripada dia terus ngoceh nggak kelar-kelar. Tapi sampai sekarang aku juga belum datang. Selain capek kerja, tiap pulang juga macet. Aku ingin segera istirahat di rumah, kalau mampir ke tempat ibu pasti istirahatku tertunda. Saat weekend pun waktuku dengan anak-anak liburan karena seminggu sudah kutinggal kerja. Jadi wajar jika ada quality time. 
 
 
 
Aku harus mengutamakan keluarga kecilku lebih dulu, kan? Pikirku, untuk ke rumah ibu bisa kapan saja nanti saat aku sudah sempat. Namun sepertinya Rima nggak pernah menyerah, bahkan sengaja menyuruh ibu untuk datang ke rumah. Seperti tempo hari, ibu yang biasanya memakai kursi roda tiba-tiba sudah muncul di halaman dengan tukang ojek. 
 
 
 
"Ibu ngapain ke sini, Bu?" tanyaku padanya yang baru saja dibantu tukang ojek untuk duduk di teras. Dia terlihat begitu kelelahan, namun aku tak terlalu peduli. Bukan kah salah ibu sendiri harus repot-repot datang ke rumah ini? Aku tak pernah memintanya untuk datang ke sini. 
 
 
 
"Ibu kangen sama kamu, Din. Sudah lama kamu nggak datang menjenguk ibu," ucapnya kala itu. Ada wajah sendu di sana. Kedua matanya pun berkaca-kaca. 
 
 
 
"Aku masih sibuk, Bu. Banyak urusan kantor yang harus kuselesaikan. Aku sudah bilang sama Rima kan? Kalau sudah ada waktu juga akan menjenguk ibu. Apa Rima sengaja nggak menyampaikan pesanku?" Aku balik bertanya pada ibu yang masih berusaha menata napasnya. 
 
 
 
"Adikmu sudah bilang, Din. Tapi ibu sendiri yang ngotot ke sini bahkan saat ini ibu juga tak bilang sama dia kalau ibu mau ke sini. Kamu masih ada waktu untuk mengejar karir, Din. Tapi belum tentu kamu bisa mengejar waktumu bersama ibu," ucap ibu lirih. 
 
 
 
Aku tak paham mengapa ibu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Kesal sekali rasanya melihat ibu begitu. Terlalu manja menurutku karena biasanya bila sakit ibu tak pernah seperti itu. Ibu selalu mengiyakan tiap kali aku bilang belum bisa datang. Ibu selalu berpesan agar aku menjaga kesehatan. Tapi akhir-akhir ini kurasakan ibu sedikit berubah, tak seperti biasanya. Padahal sakitnya pun biasa saja.
 
 
 
"Ibu, Diana ada rapat hari ini. Tolong ibu pulang saja. Nanti kalau Diana sudah ada waktu pasti ke rumah ibu," ucapku kala itu, beranjak dari teras untuk kembali ke kamar. Aku memang ada rapat siang itu. Baru beberapa langkah, kudengar ibu berucap lirih namun aku tak menggubrisnya.
 
 
 
"Kamu akan menyesal bila sudah tak bisa menjenguk ibu, Din." 
 
 
 
Air mataku menitik melihat wajah ibu yang berduka saat kutinggal pergi begitu saja, beruntung Rima sudah menjemputnya saat itu. 
 
 
 
Kupikir, drama rindu itu sudah usai karena ibu sudah bertemu denganku namun nyatanya nggak sampai di situ. Rima terus saja merecomi hari-hariku. Mengirimkan pesan, menelepon bahkan menanyakan kabarku pada satpam kapan pulang dari luar kota. Benar-benar seperti peneror. 
 
 
 
"Assalamu'alaikum, Mbak Diana. Tolong ke rumah sebentar saja. Sepuluh atau dua puluh menit pun tak apa. Ibu pengen lihat kamu sama Mas Oky, Mbak. Tolong, sakit ibu nggak seperti biasanya. Ibu nggak mau makan sebelum bertemu kamu dan Mas Oky," ucap Rima lagi dengan drama tangisnya kembali. Pusing sekali aku mendengar sandiwaranya itu-itu lagi. Sengaja kututup teleponnya dengan alasan masih ramai karena di tempat wisata, padahal aku masih makan di resto. 
 
 
 
Capek! Aku memang bukan perempuan yang cengeng seperti Rima, yang pasti lebih mandiri, kuat dan pantang menyerah. Kadang aku kesal dengan sikap adikku itu sungguh berbeda 180 derajat denganku. Terlalu mendramatisir segala sesuatu. 
 
 
 
Kadang ada hal-hal yang dia takutkan, padahal belum tentu semua benar. Kadang menerka-nerka kejadian berikutnya padahal belum tentu sesuai persepsinya. Entah lah, dari dulu aku memang nggak sejalan dengan dia.  
 
 
 
|Mbak Din aku serius, kali ini sakit ibu memang tak biasa. Kumohon, tolong tengok ibu. Ibu beberapa kali mengigau namamu dan Mas Oky. Aku sangat takut ibu kenapa-napa. Tapi jika memang kamu malas menjenguk ibu, terserah! Ingat Mbak, penyesalan selalu datang belakangan. Jangan sampai kamu menyesal setelah merasa kehilangan|
 
 
 
Pesan dari Rima dua hari yang lalu belum juga kubalas. Bahkan hanya kubaca dari pemberitahuan saja. Kemarin aku memang bersikap biasa, namun hari ini entah mengapa ada sesak yang tiba-tiba menekan dada. Hampir saja aku kehabisan napas karenanya, padahal sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. 
 
 
 
Gegas kupacu mobil menuju rumah ibu. Ada bendera kuning yang terpasang di depan gang. Beberapa orang berjalan perlahan ke arah depan, searah dengan mobilku berjalan. Ingin rasanya bertanya siapa yang berduka, namun kuurungkan. 
 
 
 
Semakin dekat, sesak ini semakin menyiksa. Apalagi saat aku tak bisa membelah gerombolan orang yang berjalan menuju tempat duka. Terpaksa aku parkirkan mobil beberapa ratus meter dari rumah ibu. 
 
 
 
Kumatikan mesin mobil lalu menelepon Mas Oky. Dia sudah datang atau belum, malas rasanya kalau menunggu ibu di rumah hanya dengan Rima saja. Yang ada aku emosi melihat dia tang hanya bisa menangis dan menangis saja. Tanpa bisa memberi solusi apa-apa di setiap masalah yang ada. 
 
 
 
"Assalamu'alaikum, Mas. Kamu di mana? Aku parkir agak jauh dari rumah ibu, terlalu banyak orang yang jalan ke arah yang sama. Sepertinya ada yang meninggal, entah siapa aku juga belum sempat tanya. Kalau kamu masih di jalan, aku tunggu di sini ya, Mas. Samping pos ronda," ucapku pada Mas Oky yang terdengar cukup berisik. 
 
 
 
"Wa'alaikumsalam, Din. Kamu buruan ke sini Diana. Orang-orang itu takziah ke rumah ibu, Din," ucap Mas Oky di sela isaknya.
 
 
 
"Maksudmu gimana sih, Mas? Kamu di mana?" Pikiranku mendadak kacau. Tak bisa berpikir jernih.
 
 
 
"Ibu meninggal, Diana. Ibu meninggal!" Mas Oky mengatakan cukup keras. Air mataku mulai menetes ke pipi begitu saja. Langit mendadak gelap. Kutatap lalu lalang orang dari balik jendela mobil yang terbuka. Semakin lama kedua mataku semakin samar dan berkunang-kunang. Perlahan mulai redup dan menghilang. Aku tak ingat apa-apa lagi setelahnya, hingga akhirnya kudapati suara ibu-ibu yang memintaku untuk istighfar agar lebih tenang.
 
 
***

Selengkapnya di KBM APP
Tangis Ibu Part 8


Continue reading

Tangis Ibu Part 7 karya NawankWulan tayang full di KBM APP

 


TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 7

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
Pov : Mas Oky 
  
|Mas, boleh pinjam uang seratus ribu saja? Aku ingin membelikan ibu daster baru. Daster lamanya sudah banyak yang sobek. Nanti kalau Mas Adam sudah gajian, InsyaAllah aku kembalikan|
 
Aku hanya membaca sekilas pesan yang  dikirimkan Rima tempo hari kemudian menghapus jejaknya di whatsapp. Dia dan Adam suaminya memang selalu begitu, tak pernah berhenti bergantung pada hidupku. Berbeda dengan Diana yang lebih mandiri, punya pekerjaan oke dan kehidupan yang mapan. Sementara Rima adik bungsuku itu memiliki kehidupan yang berbanding 180 derajat dibandingkan aku dan Diana. 
 
Pekerjaannya hanya sebagai guru honorer dengan gaji nggak seberapa sedangkan suaminya hanya sebagai kuli bangunan dengan gaji mingguan. Yang pasti tak banyak sehari mungkin hanya seratus ribuan saja. Jauh berbeda dibandingkan aku yang bisa empat kali lipatnya.  
 
|Kalau memang nggak ada, ya nggak apa-apa, Mas. Nanti aku pinjam ke yang lain saja| 
 
Lagi-lagi aku tak membalas pesan yang dikirimkan Rima itu, detik ini hanya kuhapus saja. Bosan. Intinya begitu. Dia menghubungiku pasti ada maunya, entah butuh duit atau minta tolong yang lain terutama soal ibu. Seharusnya sebagai anak bungsu Rima sadar diri jika kewajibannya saat ini memang merawat ibu. 
 
Lagipula dia tinggal gratis di rumah orang tua, tak ngontrak seperti aku dan Diana dulu sebelum punya rumah sendiri. Tapi apa? Tetap saja dia nggak bisa menabung, dengan alasan untuk berobat ibu lah, untuk belikan ibu jilbab baru lah, daster baru atau lainnya, yang kupikir hanya sebuah alasan semata.
 
Hari ini aku sangat capek, namun cukup membahagiakan karena bisa memanjakan dua jagoanku dan juga mamanya dengan berlibur bersama hingga akhirnya kami pulang dengan badan tapi puas. Puas seharian jalan-jalan, makan dan shopping mensyukuri semua nikmat yang DIA beri terutama soal rejeki, karena besok kembali pulang dan sibuk dengan rutinitas harian.
 
"Mas, adik bungsumu itu ribet banget. Telepon aku terus-terusan cuma nyuruh kita main ke rumah. Alasannya sih jenguk ibu, tapi aku yakin nanti ujung-ujungnya dia bujuk ibu supaya pinjam duit sama kita," ucap Risa di tengah kesibukannya menyoba tas baru.  
 
"Dia juga telepon aku entah berapa kali dalam sehari ini. Nggak aku angkat males. Sudah kuangkat sekali kalau aku lagi sibuk, ada promosi jabatan yang mengharuskan aku ontime dan lebih giat kerja, tapi dia selalu membuat moodku berantakan. Bilang ibu sakit dan ingin bertemu. Harusnya dia sudah hafal, ibu memang sering sakit, kan? Tapi biasanya dikasih obat warung juga sembuh. Tapi ini pakai ngerayu-ngerayu segala agar datang," ucapku pada Risa istriku yang juga bukan sekadar ibu rumah tangga biasa. Dia memiliki butik cukup besar di samping taman kota, hampir setiap hari dia habiskan waktu di butiknya jika kedua anakku sekolah. 
 
"Benar, Mas. Ibu memang sering sakit, paling hipertensinya kambuh lagi. Mungkin karena capek atau banyak pikiran. Dibawa istirahat dan minum obat juga sembuh. Biasanya juga begitu, tapi Rima terlalu ketakutan bahkan dia bilang sama aku kalau sakit ibu kali ini tak biasa." 
 
Kuhembuskan napas panjang lalu mengiyakan pendapat Risa. Kali ini Rima memang terlalu mengada-ngada soal sakit ibu. Mungkin berharap aku cepat datang dan meminjaminya uang. Aku tahu dia lagi butuh uang untuk membayar hutang di warung tiap akhir bulan begini. 
 
"Kemarin dia juga mau pinjam uang seratus lima puluh ribu, Mas. Waktu kita lagi kids land," ucap Risa membuatku sedikit terkejut. 
 
"Buat apa?" tanyaku singkat. 
 
"Buat bayar hutang katanya, Mas," jawab Risa singkat. Dia kembali menonton sinteron favoritnya di tivi.
 
"Nah, kan. Pasti pinjam duit lagi dan lagi. Entah buat apa gaji suaminya itu, duit segitu aja dia nggak punya sampai ngutang segala." 
 
Risa hanya angkat bahu. Seperti biasa dia tak terlalu peduli tiap kali membahas hutang ibu ataupun masalah Rima. Ponsel berdering cukup nyaring beberapa kali. Kuambil ponsel di meja rias dalam kamar. 
 
Diana? Tumben dia telepon sore-sore begini. Gegas kutekan tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.
 
"Assalamu'alaikum, Din. Ada apa?" tanyaku mengawali pembicaraan dengannya. 
 
"Wa'alaikumsalam, Mas. Cuma mau tanya, kamu ditelepon Rima terus nggak seharian ini? Aku hampir setiap jam soalnya. Pesan di whatsapp juga banyak banget nyuruh aku jenguk ibu," ucap Diana dengan nada sedikit kesal.
 
"Sama lah, aku juga ditelepon seharian. Bahkan Risa kena terornya juga. Biasa kan dia kalau akhir bulan begini jatah  bayar bon di warung. Jadi sekalian nyuruh kita jenguk ibu, sekalian dia mau ngutang," balasku dengan kekesalan yang sama. 
 
Aku dan Diana memang sering bertukar kabar. Sering juga liburan bersama. Entah mengapa aku lebih cocok jika ngobrol atau bertukar cerita dengannya dibandingkan dengan Rima. Selalu nyambung jika diajak bahas apa pun. Mungkin karena dia mandiri juga dan tak sering merepotkan jadi aku merasa lebih nyaman. 
 
Beberapa kali dia memang pernah pinjam duit puluhan juta tapi selalu dikembalikan tepat waktu tak seperti Rima yang hanya pinjam ratusan ribu tapi berbulan-bulan belum balik. 
Alasannya cuma itu-itu saja, uangnya kepakai buat beli bayar cicilan kursi roda ibu lah, buat beli vitamin ibu lah, buat kontrol ibu atau lainnya yang entah benar entah salah. 
 
"Kemarin dia juga mau pinjam duit seratus lima puluh ribu. Katanya mau buat bayar utang Bu Saniah. Tapi nggak aku kasih. Maksudku baik ini biar dia nggak ketergantungan. Kalau pinjam berapa saja selalu aku kasih, dia bisa keenakan nanti," cerita Diana lagi dan aku pun mengiyakan keputusan baiknya. Memang nggak perlu dipinjami supaya nggak ketergantungan lagi. 
 
"Risa barusan juga cerita katanya kemarin si Rima mau pinjam duit dengan nominal sama sepeti yang kamu sebutkan itu, cuma dia nggak kasih. Bagus lah biar anak itu bisa belajar mandiri dan nggak bergantung pada orang lain." 
 
"Benar, Mas. Kita kompak saja nggak mau kasih pinjaman, biar Rima tahu bagaimana caranya berhemat dan menabung. Setidaknya untuk kebaikan dia juga, kan? Sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak bisa pakai tabungan," ucap Diana lagi. 
 
"Ibu selalu saja menjadi tameng padahal yang boros justru dia sendiri," ucapku. Diana mengiyakan juga. Berarti  memang dia pemboros. 
 
"Rima bilang kalau beberapa hari ini sakit ibu tak seperti biasanya, Mas. Dia juga bilang kalau ibu nggak mau makan dari kemarin, dia pengen ketemu kita dulu, Mas. Menurutmu mengada-ngada nggak sih dia?" 
 
"Nggak usah didengerin lah. Dari dulu ibu nggak pernah begitu kalau sakit. Nggak manja. Rima saja mungkin yang pengen kita main ke rumah pakai bawa nama ibu segala. Dasar anak itu."
 
"Bahkan dia ngancam aku juga, Mas. Kalau hari ini nggak pulang, jangan sampai menyesal jika terjadi apa-apa sama ibu, begitu katanya. Aku kok jadi khawatir ya, Mas?" ucap Diana lagi dengan nada khawatir. 
 
"Kamu di mana sekarang? Rima juga ngomong begitu sama aku. Tapi sudah lah, bisa saja dia cuma menakut-nakuti, kan?"  
 
"Aku lagi di luar kota ada tugas kantor, Mas. Sekarang sih masih di hotel. Kalau kerjaan sudah selesai dua hari lalu cuma karena weekend, aku liburan sekalian. Kamu di rumah apa di mana, Mas?"
 
"Di rumah sama Risa dan anak-anak. Seharian jalan-jalan, shopping dan makan. Kenapa?" 
 
"Belum maghrib nih, Mas. Apa kita ke rumah ibu sekarang saja? Perasaanku jadi nggak enak begini," ucap Diana kemudian. 
 
Aku terdiam sejenak. Diana benar, sejak siang tadi sebenarnya perasaanku juga nggak enak tapi tak terlalu kurasakan karena melihat kebahagiaan istri dan kedua jagoan. Tapi setelah Diana bilang seperti ini, mendadak ada sesak dalam dada yang sulit kujelaskan mengapa.
 
"Yasudah, Di. Kita ke rumah ibu sekarang. Nanti ketemu di sana saja. Awas saja kalau Rima dusta. Bisa kumaki-maki dia nanti, ngerjain kakak sendiri. Sudah capek seharian mau istirahat sebentar saja terpaksa harus ke rumahnya," ucapku.
 
Diana pun mengiyakan lalu mengucap salam dan menutup ponselnya. 
 
"Ris, ayo ke rumah ibu sekarang. Perasaanku nggak enak, takut terjadi apa-apa," ucapku pada Risa yang masih asyik menikmati sinetron. 
 
"Ah, Mas. Nggak ikut deh. Capek banget aku hari ini, lagian anak-anak pasti juga nggak mau. Mereka masih asyik dengan mainan baru. Besok saja kan bisa? Sudah mau maghrib pula," ucap Risa kemudian. 
 
Kuhembuskan napas panjang. Risa memang selalu begitu, tak terlalu peduli dengan keluargaku. Tapi mau gimana, memang Rima juga yang salah selalu saja merepotkanku. 
 
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat sendiri, ya? Jaga anak-anak," ucapku pada Risa sembari tersenyum tipis. Dia mengangguk pelan, mengantarku sampai garasi. 
 
Kupacu mobil perlahan menuju rumah ibu. Entah mengapa, semakin dekat semakin berdebar jantungku. Mungkin kah terjadi sesuatu dengan ibu? 

Selengkapnya di KBM APP

Tangis Ibu Part 7


 
Continue reading

Tangis Ibu Part 6 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP


 

TANGIS IBU DI USIA SENJANYA

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
"Assalamu'alaikum, Mbak Diana. Tolong ke rumah sebentar saja. Sepuluh atau dua puluh menit pun tak apa. Ibu pengen lihat kamu sama Mas Oky, Mbak. Tolong, sakit ibu nggak seperti biasanya. Ibu nggak mau makan sebelum bertemu kamu dan Mas Oky," ucapku dengan tergugu. Air mataku benar-benar tumpah seketika. 
 
 
 
Suasana di seberang begitu ramai, entah di mana Mbak Diana saat ini. 
 
 
 
"Wa'alaikumsalam, Rim. Kamu ngomong apa? Nggak dengar, Rima. Lagi di tempat wisata sama anak-anak. Nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai hotel." 
 
 
 
Klik. Panggilanku dimatikan begitu saja olehnya. 
 
 
 
Astaghfirullah, Mbak. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini pada ibu padahal ibu sangat merindukanmu. Kenapa kamu lebih mementingkan keluarga Mas Gilang dibandingkan ibumu sendiri. Kenapa kamu tak pernah mau sedikit saja melihat dan membayangkan bagaimana pengorbanan ibu selama ini?
 
 
 
Air mataku tumpah. Benar-benar tak tahan lagi membayangkan bagaimana kerinduan ibu pada dua anaknya, anak yang hingga detik ini belum juga datang menemuinya. Padahal sudah berulang kali aku meminta untuk datang meski hanya beberapa menit saja. 
 
 
 
Apa yang harus kulakukan sekarang? Harus kah diam saja menunggu mereka datang atau apa? Aku tak mungkin meninggalkan ibu sendirian. Lagi-lagi aku diterpa kecewa dan kebingungan yang dalam. Tak tahu apa yang bisa kulakukan selain menangis dalam diam. 
 
 
 
Aku hanya bisa berusaha membesarkan hati ibu meski kutahu itu hanya sebuah kesiaan semata, karena pastinya firasat seorang ibu jauh lebih peka. Siapa anak yang tulus dan siapa yang penuh sandiwara dan hanya berpura-pura. 
 
 
 
Berulang kali kutelepon Mas Oky namun ponselnya tak aktif. Telepon Mbak Risa justru ditolak, entah ke mana mereka. Mungkin kah bersenang-senang di tengah kesakitan ibu? 
 
 
 
Kucoba cek status whatsapp Mbak Risa. Lagi-lagi dadaku terasa begitu sesak saat kulihat mereka terlihat begitu menikmati liburan dan makan di restoran mewah. Aneka masakan seafood terhidang di meja makan. Mereka tampak begitu menikmati dan foto bersama dengan senyum bahagia. 
 
 
 
Kutuliskan sebuah komentar di sana. Rasanya begitu nelangsa melihat mereka tertawa bersama di tengah kesakitan dan kerinduan ibu yang begitu dalam. 
 
 
 
|Mbak, tolong bilang sama Mas Oky. Ibu ingin bertemu. Ibu sakit keras, Mbak.| 
 
 
 
Tak ada ceklis biru di sana meski Mbak Risa kulihat masih online. Pesan yang kukirimkan masih abu-abu, mungkin malas untuk membaca apalagi membalasnya bahkan saat dia sudah offline. 
 
 
 
Astaghfirullah, sabar Rima ... sabar. Semua demi ibu. Kamu harus kuat, jangan menyerah gitu aja. Anggap saja kedua kakakmu adalah ujian yang mau tak mau harus kamu selesaikan. Kamu harus terus berusaha mengambil hati kedua kakakmu agar mau menjenguk ibu. Ibu begitu merindukan mereka. Ibu ingin melihat wajah kedua anaknya. 
 
 
 
Tak putus asa, aku kembali menghubungi Mas Oky namun masih tak aktif. Dengan tangan gemetar kukirimkan pesan untuknya. Jika masih tak mau menjenguk ibu, biar lah. Mereka semua akan menyesal sendiri di kemudian hari. 
 
 
 
|Mas, ibu nggak mau makan sebelum melihat kamu dan Mbak Diana datang. Sakit ibu makin parah karena dari kemarin nggak makan apa-apa. Ibu beneran sakit, Mas. Tolong jenguk ibu berapa menit saja terserah kamu. Sudah berapa bulan kamu nggak datang ke rumah? Coba ingat-ingat. Kasihan ibu, aku nggak tega melihatnya seperti sekarang.| 
 
 
 
Tak selang lama kulihat Mbak Risa menelepon. Mungkin dia sudah lapor Mas Oky tentang kondisi ibu. Syukur lah, semoga saja mereka segera datang ke rumah.
 
 
 
"Rima! Ngapain sih kamu ganggu dari tadi. Aku sudah bilang kan kalau weekend aku nggak mau diganggu? Waktunya liburan dengan keluarga kecilku. Lagipula ibu memang sering sakit, kan, Rim? Tensinya sering naik. Biasanya minum obat dari warung juga sembuh!" Mas Oky terdengar begitu kesal. 
 
 
 
Air mataku kembali luruh, membasahi pipi. 
 
 
 
"Ya Allah, Mas. Ibu sakit dari kemarin nggak mau makan. Kamu malah enak-enakan liburan. Liburan kan bisa kapan-kapan tapi ibu-- 
 
 
"Makanya bawa ke dokter, Rima! Kenapa? Nggak punya duit juga? Kamu itu harusnya menyimpan uang, anggap saja buat bayar kontrakan bulanan. Nah kalau ibu sakit begini kamu bisa pakai uang itu. Sudah numpang di rumah ibu gratis tapi seolah lepas tangan saat ibu sakit!" 
 
 
 
Sesak. Perih dan terluka. Tega sekali Mas Oky mengatakan hal yang begitu menyakitkan ini pada adik kandungnya sendiri. Bukannya aku tak sanggup merawat ibu, aku hanya menyampaikan pesannya untuk melihat kedua anaknya saja. Tapi lagi-lagi tanggapan Mas Oky dan Mbak Diana tak jauh beda. Beranggapan bahwa aku terlalu perhitungan dalam memberikan perawatan untuk ibu.
 
 
 
"Terserah kamu, Mas. Kalau memang kamu nggak mau datang. Jangan menyesal di kemudian hari jika terjadi apa-apa dengan ibu. Aku sudah berusaha memberitahumu. Assalamu'alaikum." 
 
 
 
Kumatikan ponsel setelah mengucapkan salam. Rasanya percuma memintanya segera datang karena Mas Oky pasti akan menomor sekiankan ibu dan aku. 
 
 
 
Dia tak pernah peduli dengan tangis ibu. Dia tak peduli bagaimana sakitnya hatiku dan perihnya luka ibu. Yang dia pikirkan hanya kesenangannya sendiri. Egois memang, namun begitu lah dia dan istrinya. Sama saja tak pernah menganggapku dan ibu ada. 
 
 
 
Jika membutuhkan pertolongan kami saja mereka sering datang, setelah mendapatkan kemauannya mereka pergi dan menghilang. 
 
 
 
Gegas kutelepon Mas Adam, memintanya untuk kerja setengah hari saja. Aku benar-benar takut ibu kenapa-napa. Hanya Mas Adam yang selalu menenangkan hatiku di saat gundah gulana, memikirkan Mas Oky dan Mbak Diana yang tak pernah berubah sedari dulu. 
 
 
 
Buru-buru aku mencuci muka. Acara goreng menggoreng tak jadi kulanjutkan. Aku ingin selalu bersama dan di dekat ibu saat ini. Menjaganya, memijit tangan dan kakinya serta menceritakan sesuatu yang membuat hatinya bahagia. Aku tak ingin kehilangan momen berharga bersamanya. 
 
 
 
Kubuka pintu perlahan dengan membawa semangkuk bubur ayam. Jika ibu enggan mengunyah semoga bubur ini cukup mudah ditelannya. Biasanya ibu sangat suka dengan kuah bubur ayam yang konon menggugah selera. 
 
 
 
"Bu ... makan bubur ayam dulu ,ya? Rina suapi supaya ibu lekas sembuh," ucapku menahan serak dan isak. Sungguh, tak tega melihat wajah ibu yang menyimpan banyak beban dan duka. Entah sejak kapan ibu lebih sering memejamkan mata. Mungkin hanya saat salat saja dia membuka kedua matanya. Dia meminta bantuanku untuk memakaikan kaos kaki dan salat dengan berbaring di atas ranjangnya. 
 
 
 
"Ibu ...." Kugoyangkan lengannya perlahan. 
 
 
 
Dia membuka kedua matanya, menatapku beberapa saat lalu menitikkan air mata. Wajah teduh itu yang dulu berjuang sekuat tenaga mengandungku sembilan bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, merawatku sepenuh cinta hingga dewasa dan kini dia mulai menua. 
 
 
 
Kuusap kristal bening di kedua sudut matanya yang menua. Senyum itu ... tangis itu ... dan wajah itu. Selalu membuat hari-hariku penuh warna, sekuat apa pun aku berusaha untuk membahagiakan dan merawatnya, tak pernah bisa menebus pengorbanannya, bahkan mungkin pengorbananku ini hanya seujung kukunya saja. 
 
 
 
"Rima ... kakakmu nggak datang, kan?" tanyanya lirih. Air mataku kembali tumpah meski sudah berusaha kubendung sedemikian rupa. 
 
 
 
Aku bahkan tak memiliki daya untuk menjawab pertanyaan ibu. Hanya tangis dan gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.  
 
 
 
Ibu menyeka kedua pipiku yang basah lalu tersenyum begitu manis. Senyum yang tak akan pernah kulupa sepanjang hidupku. 
 
 
 
"Jangan menangis, Rima. Kamu anak terhebat yang ibu punya. Kamu anak shalehah. Ibu sangat bersyukur memiliki anak sepertimu. Doa ibu tak pernah putus untukmu, Rima. Esok atau lusa kamu pasti bahagia." 
 
 
 
Kupeluk ibu dengan tangis yang semakin keras terdengar, bahkan aku tak sadar jika Mas Adam sudah duduk di sebelahku. Memijit kaki ibu perlahan. 
 
 
 
"Semoga Allah segera memberikan kalian keturunan, membuat hidup kalian mapan dan nyaman dan menjadikan keluarga kalian selalu dalam cinta, setia dan bahagia." 
 
 
 
Ibu kembali menitikkan air matanya. Meminta Mas Adam untuk membimbingnya mengucap syahadat. Tangisku semakin pecah saat menatap wajah ibu yang begitu tenang. Ibu telah pergi dengan seulas senyum yang menyejukkan. 
 
***
 
Nangissssss bayanginnya 😭😭


Selengkapnya di KBM APP ...

Tangis Ibu Part 6 di KBM APP




Continue reading

Tangis Ibu Part 5 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP


Jangan lupa subscribe sebelum membaca ceritanya, ya, Kak. Boleh juga tinggalkan love dan komennya. Terima kasih 💕  

 
TANGIS IBU DI USIA SENJANYA
 
{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
Ibu memintaku untuk membawanya pulang ke rumah, untuk menghemat biaya. Ibu begitu pengertian, tahu keadaan ekonomiku yang tak baik-baik saja. Terkadang, aku merasa gagal menjadi anak untuknya. Aku tak bisa diandalkan dari segi apa pun. Bahkan sekadar memenuhi keinginan ibu untuk makan jajan ini itu saja terkadang harus kutunda, menunggu Mas Adam gajian tiap sabtu. 
 
 
 
Iri. Kadang begitu lah yang kurasakan tiap kali melihat status whatsapp Mbak Diana dan Mbak Risa yang sering jalan-jalan, makan di restoran atau shopping di mall. Fashion mereka berkelas dan branded, sementara aku hanya daster lusuh yang sudah pudar warnanya. Namun tiap kali melihat peluh yang menetes di dahi Mas Adam, semua iri itu lenyap seketika. 
 
 
 
Aku merasa sangat beruntung memiliki suami sepertinya yang perhatian, penuh kasih dan tanggung jawab pada keluarga. Begitu menyayangiku bahkan sangat menghormati ibu sebagai mertuanya. Dia yang sering memintaku untuk menanyakan keinginan ibu. Dia yang selalu berusaha mewujudkan permintaan ibu meski harus ditukar dengan peluh di dahinya, dengan tenaga dan rasa lelahnya. 
 
 
 
"Hanya ibu yang kita miliki saat ini, Dek. Bahagiakan dia selama dia masih ada. Karena ridhonya akan membuat hidup kita lebih tenang dan bahagia. Ibu adalah kunci surga kita, surga di dunia kita. Ada nama kita di setiap doa dan sujudnya. 
 
 
 
Tak sepadan rasanya membalas untaian doa-doa di tengah isaknya sekadar dengan menuruti keinginannya yang tak seberapa itu. Sabar dan ikhlas lah, agar hari-hari tua ibu merasa tenang bersamamu."
 
 
 
Pesan Mas Adam waktu itu selalu aku ingat. Karena itu pula sekarang aku tak pernah lagi membahas masalah ibu pada kedua kakakku. Aku akan merawatnya sendiri, karena tak semua anak dikaruniai hidayah dan hati yang terbuka untuk merawat ibunya. 
 
 
 
Biar saja kedua kakakku tenggelam dalam dunianya sendiri jika memang tak mau ikut campur masalah ibu, yang pasti aku sudah berulang kali mengingatkan. Namun yang kudapatkan hanya lah makian. 
 
 
 
Kulihat ibu masih terbaring di pembaringan saat kubuka pintu kamarnya. Sepertinya ibu sudah sempat membuka jendela kamarnya, mungkin kembali mengantuk hingga dia balik ke pembaringan. 
 
 
 
Kuperiksa keningnya masih saja demam. Sudah tiga hari ini belum juga turun. Aku ingin mengajak ibu ke klinik lagi, namun ibu selalu menolaknya. Dia hanya ingin melihat Mbak Diana dan Mas Oky datang menjenguk, katanya. Sesak sekali dadaku tiap kali ibu mengatakan itu. Tapi apa mau dikata, tiap kutelepon tak pernah mereka angkat bahkan sesekali sengaja ditolak. 
 
 
 
Kukirimkan pesan di whatsapp, Mbak Diana dan Mas Oky kompak menjawab belum bisa menjenguk ibu karena masih sibuk tugas di kantor. Mas Oky sibuk dengan promosi jabatan sementara Mbak Oky masih ke luar kota. Sudah selesai tugas kemarin sore namun dua hari berikutnya ingin sekalian liburan, katanya. 
 
 
 
Mereka tak terlalu peduli dengan keadaan ibu. Mungkin mereka pikir, sakit ibu seperti sakit-sakit sebelumnya. Yang akan sembuh setelah minum obat warung. Padahal aku merasa, sakit ibu kali ini sangat berbeda. Ibu benar-benar merindukan kehadiran kedua anaknya itu. Mungkin di detik-detik terakhir dalam hidupnya. 
 
 
 
Sesekali kulihat ibu terbatuk, namun kedua matanya masih saja terlelap. Pikiranku makin tak tentu, apalagi saat kulihat kue bolu di atas meja sejak semalam masih utuh tak tersentuh, padahal ibu bilang akan memakannya setelah tilawah pasca salat isya'. 
 
 
 
"Bu ... Rima antar ke klinik lagi saja, ya? Rima nggak tahu detail kondisi ibu jika di rumah. Tak tahu juga obat-obat yang bisa membantu menyembuhkan ibu," ucapku lirih. Bulir kecil menetes di kedua pipi. 
 
 
 
Ibu tak menjawab pertanyaanku, hanya menggelengkan kepala perlahan. 
 
 
 
"Kenapa bolunya nggak dimakan, Bu? Apa nggak enak?" 
 
 
 
"Bukannya nggak enak, Rima. Ibu lagi nggak nafsu makan sekarang," ucap ibu masih dengan mata terpejam.
 
 
 
"Ibu bilang pengen makan bolu?" 
 
 
 
"Iya kemarin tapi pas udah datang mendadak mual. Jadi ibu nggak makan sedikit pun. Buat kamu saja sama Adam, ya? Jangan sampai berjamur dan terbuang sia-sia. Mubazir."
 
 
 
"Iya, Bu. Nanti Rima simpan buat Mas Adam. Sekarang ibu pengen makan apa? Harus makan, ya, Bu. Biar cepat sehat," ucapku lagi. Kuusap kening ibu yang penuh dengan keriput. 
 
 
 
Ibu hanya menggeleng perlahan, pertanda tak menginginkan apa-apa. 
 
 
 
"Makan dong, Bu. Nanti Rima suapin, ya? Bubur ayam mau? Apa ibu mau teh hangat? Atau susu? Rima bikin dulu, ya?" tawarku lirih sembari memijit lengan kanan ibu. Kuselimuti sebagian tubuh ibu agar sedikit lebih hangat.
 
 
 
"Bu ...." panggilku lagi. Kedua sudut ibu melengkungkan senyum, namun matanya belum juga terbuka. 
 
 
 
"Kamu lanjutkan goreng tempe sama tahunya saja, Rima. Ibu sendirian nggak apa-apa. Semangat untuk cari rejeki halalNya agar kamu dan Adam tak selalu dihina. Ohya, kamu sudah minta kakakmu untuk menjenguk ibu, kan?" tanya ibu lirih. 
 
 
 
Kuhembuskan napas panjang. Bingung sekali apa yang harus kukatakan pada ibu. Harus kah aku jujur atau kembali menutupi ketidak pedulian mereka pada ibu? Jika jujur, ibu pasti sangat terluka. Aku tak ingin memperparah luka di hatinya. 
 
 
 
"Sudah, Bu. Mbak Diana masih di luar kota ada urusan kantor, sementara Mas Oky masih begitu sibuk karena baru dipromosikan jabatan, Bu. Mungkin sekarang baru naik jabatan, entah lah. Rima juga nggak terlalu paham," ucapku lirih. 
 
 
 
Ibu hanya mengangguk perlahan. 
 
 
 
"Semoga kedua kakakmu tak terjerumus dengan kemewahan dunia terlalu dalam." 
 
 
 
Hanya itu yang ibu ucapkan. Kutawarkan air putih untuk ibu namun dia jua tak mau. 
 
 
 
"Sudah, Rim. Ibu mau istirahat sebentar, rasanya lelah sekali. Ngantuk, semalaman ibu nggak bisa tidur. Kamu goreng-goreng saja biar bisa kamu titipkan ke Mak Niah. Lumayan kan masih cukup pagi ini," ucap ibu lagi. Aku pun mengangguk pelan, menuruti nasehat yang ibu berikan.
 
 
 
Gegas kumelangkah ke dapur untuk membuat mendoan, ketela goreng, bakwan dan tahu goreng untuk dititipkan ke warung bakso Bang Rojak dan warung nasi Mak Niah. Semoga saja laris dan tak bersisa seperti kemarin. Setidaknya bisa membelikan buah-buahan atau makanan yang ibu inginkan. 
 
 
 
Aku mulai meracik kobis, wortel, kecambah dan tepung untuk membuat bakwan goreng. Tak lupa bumbu-bumbu halusnya. Setelah memasukkan adonan ke penggorengan kukecilkan kompor, kembali memeriksa keadaan ibu. Alhamdulillah ibu masih mendengar suaraku, sesekali memberikan nasehatnya kembali. Nasehat yang sama seperti sebelumnya. 
 
 
 
Apa ibu sudah mulai tak ingat dengan ucapan sebelumnya? Kenapa ibu mengulang-ulang kalimat yang sama tiap kali aku datang menemaninya?
 
 
 
"Ibu mau makan apa? Nanti Rima belikan, Bu. Buah mau?"
 
 
 
Ibu menggeleng pelan.
 
 
 
"Ibu harus makan walau sedikit ya, Bu? Gimana ibu cepat sembuh kalau ibu nggak mau makan?" 
 
 
 
Ibu terlihat menghembuskan napas panjang. 
 
 
 
"Ibu nggak mau makan sebelum kedua kakakmu datang, Rima." Dadaku kembali berdebar mendengar jawaban dari ibu. 
 
 
 
'Oh ibu, Rima nggak tahu mereka akan datang atau nggak untuk menjenguk ibu.' 

Selengkapnya di KBM App ...

 
***
 
Continue reading