Senin, 24 Oktober 2022

Tangis Ibu Part 8 karya NawankWulan tayang full di KBM APP

 


TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 8
 
{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
 
 
Pov : Mbak Diana 
 
 
"Mbak Din ... Ibu kangen sama Mbak, tolong datang ke rumah sekarang, ya? Mumpung weekend dan mbak nggak kerja. Dari kemarin ibu nanyain mbak Diana tapi kubilang tunggu libur kerja dulu. Kasihan ibu selalu nanyain dan nungguin mbak di teras rumah tiap jam pulang kerja. Sepuluh atau dua puluh menit saja juga nggak apa-apa yang penting ditengok, ibu juga sudah lega dan bahagia," ucap Rima beberapa hari yang lalu saat ditelepon. 
 
 
 
Aku iyakan saja daripada dia terus ngoceh nggak kelar-kelar. Tapi sampai sekarang aku juga belum datang. Selain capek kerja, tiap pulang juga macet. Aku ingin segera istirahat di rumah, kalau mampir ke tempat ibu pasti istirahatku tertunda. Saat weekend pun waktuku dengan anak-anak liburan karena seminggu sudah kutinggal kerja. Jadi wajar jika ada quality time. 
 
 
 
Aku harus mengutamakan keluarga kecilku lebih dulu, kan? Pikirku, untuk ke rumah ibu bisa kapan saja nanti saat aku sudah sempat. Namun sepertinya Rima nggak pernah menyerah, bahkan sengaja menyuruh ibu untuk datang ke rumah. Seperti tempo hari, ibu yang biasanya memakai kursi roda tiba-tiba sudah muncul di halaman dengan tukang ojek. 
 
 
 
"Ibu ngapain ke sini, Bu?" tanyaku padanya yang baru saja dibantu tukang ojek untuk duduk di teras. Dia terlihat begitu kelelahan, namun aku tak terlalu peduli. Bukan kah salah ibu sendiri harus repot-repot datang ke rumah ini? Aku tak pernah memintanya untuk datang ke sini. 
 
 
 
"Ibu kangen sama kamu, Din. Sudah lama kamu nggak datang menjenguk ibu," ucapnya kala itu. Ada wajah sendu di sana. Kedua matanya pun berkaca-kaca. 
 
 
 
"Aku masih sibuk, Bu. Banyak urusan kantor yang harus kuselesaikan. Aku sudah bilang sama Rima kan? Kalau sudah ada waktu juga akan menjenguk ibu. Apa Rima sengaja nggak menyampaikan pesanku?" Aku balik bertanya pada ibu yang masih berusaha menata napasnya. 
 
 
 
"Adikmu sudah bilang, Din. Tapi ibu sendiri yang ngotot ke sini bahkan saat ini ibu juga tak bilang sama dia kalau ibu mau ke sini. Kamu masih ada waktu untuk mengejar karir, Din. Tapi belum tentu kamu bisa mengejar waktumu bersama ibu," ucap ibu lirih. 
 
 
 
Aku tak paham mengapa ibu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Kesal sekali rasanya melihat ibu begitu. Terlalu manja menurutku karena biasanya bila sakit ibu tak pernah seperti itu. Ibu selalu mengiyakan tiap kali aku bilang belum bisa datang. Ibu selalu berpesan agar aku menjaga kesehatan. Tapi akhir-akhir ini kurasakan ibu sedikit berubah, tak seperti biasanya. Padahal sakitnya pun biasa saja.
 
 
 
"Ibu, Diana ada rapat hari ini. Tolong ibu pulang saja. Nanti kalau Diana sudah ada waktu pasti ke rumah ibu," ucapku kala itu, beranjak dari teras untuk kembali ke kamar. Aku memang ada rapat siang itu. Baru beberapa langkah, kudengar ibu berucap lirih namun aku tak menggubrisnya.
 
 
 
"Kamu akan menyesal bila sudah tak bisa menjenguk ibu, Din." 
 
 
 
Air mataku menitik melihat wajah ibu yang berduka saat kutinggal pergi begitu saja, beruntung Rima sudah menjemputnya saat itu. 
 
 
 
Kupikir, drama rindu itu sudah usai karena ibu sudah bertemu denganku namun nyatanya nggak sampai di situ. Rima terus saja merecomi hari-hariku. Mengirimkan pesan, menelepon bahkan menanyakan kabarku pada satpam kapan pulang dari luar kota. Benar-benar seperti peneror. 
 
 
 
"Assalamu'alaikum, Mbak Diana. Tolong ke rumah sebentar saja. Sepuluh atau dua puluh menit pun tak apa. Ibu pengen lihat kamu sama Mas Oky, Mbak. Tolong, sakit ibu nggak seperti biasanya. Ibu nggak mau makan sebelum bertemu kamu dan Mas Oky," ucap Rima lagi dengan drama tangisnya kembali. Pusing sekali aku mendengar sandiwaranya itu-itu lagi. Sengaja kututup teleponnya dengan alasan masih ramai karena di tempat wisata, padahal aku masih makan di resto. 
 
 
 
Capek! Aku memang bukan perempuan yang cengeng seperti Rima, yang pasti lebih mandiri, kuat dan pantang menyerah. Kadang aku kesal dengan sikap adikku itu sungguh berbeda 180 derajat denganku. Terlalu mendramatisir segala sesuatu. 
 
 
 
Kadang ada hal-hal yang dia takutkan, padahal belum tentu semua benar. Kadang menerka-nerka kejadian berikutnya padahal belum tentu sesuai persepsinya. Entah lah, dari dulu aku memang nggak sejalan dengan dia.  
 
 
 
|Mbak Din aku serius, kali ini sakit ibu memang tak biasa. Kumohon, tolong tengok ibu. Ibu beberapa kali mengigau namamu dan Mas Oky. Aku sangat takut ibu kenapa-napa. Tapi jika memang kamu malas menjenguk ibu, terserah! Ingat Mbak, penyesalan selalu datang belakangan. Jangan sampai kamu menyesal setelah merasa kehilangan|
 
 
 
Pesan dari Rima dua hari yang lalu belum juga kubalas. Bahkan hanya kubaca dari pemberitahuan saja. Kemarin aku memang bersikap biasa, namun hari ini entah mengapa ada sesak yang tiba-tiba menekan dada. Hampir saja aku kehabisan napas karenanya, padahal sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. 
 
 
 
Gegas kupacu mobil menuju rumah ibu. Ada bendera kuning yang terpasang di depan gang. Beberapa orang berjalan perlahan ke arah depan, searah dengan mobilku berjalan. Ingin rasanya bertanya siapa yang berduka, namun kuurungkan. 
 
 
 
Semakin dekat, sesak ini semakin menyiksa. Apalagi saat aku tak bisa membelah gerombolan orang yang berjalan menuju tempat duka. Terpaksa aku parkirkan mobil beberapa ratus meter dari rumah ibu. 
 
 
 
Kumatikan mesin mobil lalu menelepon Mas Oky. Dia sudah datang atau belum, malas rasanya kalau menunggu ibu di rumah hanya dengan Rima saja. Yang ada aku emosi melihat dia tang hanya bisa menangis dan menangis saja. Tanpa bisa memberi solusi apa-apa di setiap masalah yang ada. 
 
 
 
"Assalamu'alaikum, Mas. Kamu di mana? Aku parkir agak jauh dari rumah ibu, terlalu banyak orang yang jalan ke arah yang sama. Sepertinya ada yang meninggal, entah siapa aku juga belum sempat tanya. Kalau kamu masih di jalan, aku tunggu di sini ya, Mas. Samping pos ronda," ucapku pada Mas Oky yang terdengar cukup berisik. 
 
 
 
"Wa'alaikumsalam, Din. Kamu buruan ke sini Diana. Orang-orang itu takziah ke rumah ibu, Din," ucap Mas Oky di sela isaknya.
 
 
 
"Maksudmu gimana sih, Mas? Kamu di mana?" Pikiranku mendadak kacau. Tak bisa berpikir jernih.
 
 
 
"Ibu meninggal, Diana. Ibu meninggal!" Mas Oky mengatakan cukup keras. Air mataku mulai menetes ke pipi begitu saja. Langit mendadak gelap. Kutatap lalu lalang orang dari balik jendela mobil yang terbuka. Semakin lama kedua mataku semakin samar dan berkunang-kunang. Perlahan mulai redup dan menghilang. Aku tak ingat apa-apa lagi setelahnya, hingga akhirnya kudapati suara ibu-ibu yang memintaku untuk istighfar agar lebih tenang.
 
 
***

Selengkapnya di KBM APP
Tangis Ibu Part 8


Continue reading

Tangis Ibu Part 7 karya NawankWulan tayang full di KBM APP

 


TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 7

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
Pov : Mas Oky 
  
|Mas, boleh pinjam uang seratus ribu saja? Aku ingin membelikan ibu daster baru. Daster lamanya sudah banyak yang sobek. Nanti kalau Mas Adam sudah gajian, InsyaAllah aku kembalikan|
 
Aku hanya membaca sekilas pesan yang  dikirimkan Rima tempo hari kemudian menghapus jejaknya di whatsapp. Dia dan Adam suaminya memang selalu begitu, tak pernah berhenti bergantung pada hidupku. Berbeda dengan Diana yang lebih mandiri, punya pekerjaan oke dan kehidupan yang mapan. Sementara Rima adik bungsuku itu memiliki kehidupan yang berbanding 180 derajat dibandingkan aku dan Diana. 
 
Pekerjaannya hanya sebagai guru honorer dengan gaji nggak seberapa sedangkan suaminya hanya sebagai kuli bangunan dengan gaji mingguan. Yang pasti tak banyak sehari mungkin hanya seratus ribuan saja. Jauh berbeda dibandingkan aku yang bisa empat kali lipatnya.  
 
|Kalau memang nggak ada, ya nggak apa-apa, Mas. Nanti aku pinjam ke yang lain saja| 
 
Lagi-lagi aku tak membalas pesan yang dikirimkan Rima itu, detik ini hanya kuhapus saja. Bosan. Intinya begitu. Dia menghubungiku pasti ada maunya, entah butuh duit atau minta tolong yang lain terutama soal ibu. Seharusnya sebagai anak bungsu Rima sadar diri jika kewajibannya saat ini memang merawat ibu. 
 
Lagipula dia tinggal gratis di rumah orang tua, tak ngontrak seperti aku dan Diana dulu sebelum punya rumah sendiri. Tapi apa? Tetap saja dia nggak bisa menabung, dengan alasan untuk berobat ibu lah, untuk belikan ibu jilbab baru lah, daster baru atau lainnya, yang kupikir hanya sebuah alasan semata.
 
Hari ini aku sangat capek, namun cukup membahagiakan karena bisa memanjakan dua jagoanku dan juga mamanya dengan berlibur bersama hingga akhirnya kami pulang dengan badan tapi puas. Puas seharian jalan-jalan, makan dan shopping mensyukuri semua nikmat yang DIA beri terutama soal rejeki, karena besok kembali pulang dan sibuk dengan rutinitas harian.
 
"Mas, adik bungsumu itu ribet banget. Telepon aku terus-terusan cuma nyuruh kita main ke rumah. Alasannya sih jenguk ibu, tapi aku yakin nanti ujung-ujungnya dia bujuk ibu supaya pinjam duit sama kita," ucap Risa di tengah kesibukannya menyoba tas baru.  
 
"Dia juga telepon aku entah berapa kali dalam sehari ini. Nggak aku angkat males. Sudah kuangkat sekali kalau aku lagi sibuk, ada promosi jabatan yang mengharuskan aku ontime dan lebih giat kerja, tapi dia selalu membuat moodku berantakan. Bilang ibu sakit dan ingin bertemu. Harusnya dia sudah hafal, ibu memang sering sakit, kan? Tapi biasanya dikasih obat warung juga sembuh. Tapi ini pakai ngerayu-ngerayu segala agar datang," ucapku pada Risa istriku yang juga bukan sekadar ibu rumah tangga biasa. Dia memiliki butik cukup besar di samping taman kota, hampir setiap hari dia habiskan waktu di butiknya jika kedua anakku sekolah. 
 
"Benar, Mas. Ibu memang sering sakit, paling hipertensinya kambuh lagi. Mungkin karena capek atau banyak pikiran. Dibawa istirahat dan minum obat juga sembuh. Biasanya juga begitu, tapi Rima terlalu ketakutan bahkan dia bilang sama aku kalau sakit ibu kali ini tak biasa." 
 
Kuhembuskan napas panjang lalu mengiyakan pendapat Risa. Kali ini Rima memang terlalu mengada-ngada soal sakit ibu. Mungkin berharap aku cepat datang dan meminjaminya uang. Aku tahu dia lagi butuh uang untuk membayar hutang di warung tiap akhir bulan begini. 
 
"Kemarin dia juga mau pinjam uang seratus lima puluh ribu, Mas. Waktu kita lagi kids land," ucap Risa membuatku sedikit terkejut. 
 
"Buat apa?" tanyaku singkat. 
 
"Buat bayar hutang katanya, Mas," jawab Risa singkat. Dia kembali menonton sinteron favoritnya di tivi.
 
"Nah, kan. Pasti pinjam duit lagi dan lagi. Entah buat apa gaji suaminya itu, duit segitu aja dia nggak punya sampai ngutang segala." 
 
Risa hanya angkat bahu. Seperti biasa dia tak terlalu peduli tiap kali membahas hutang ibu ataupun masalah Rima. Ponsel berdering cukup nyaring beberapa kali. Kuambil ponsel di meja rias dalam kamar. 
 
Diana? Tumben dia telepon sore-sore begini. Gegas kutekan tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.
 
"Assalamu'alaikum, Din. Ada apa?" tanyaku mengawali pembicaraan dengannya. 
 
"Wa'alaikumsalam, Mas. Cuma mau tanya, kamu ditelepon Rima terus nggak seharian ini? Aku hampir setiap jam soalnya. Pesan di whatsapp juga banyak banget nyuruh aku jenguk ibu," ucap Diana dengan nada sedikit kesal.
 
"Sama lah, aku juga ditelepon seharian. Bahkan Risa kena terornya juga. Biasa kan dia kalau akhir bulan begini jatah  bayar bon di warung. Jadi sekalian nyuruh kita jenguk ibu, sekalian dia mau ngutang," balasku dengan kekesalan yang sama. 
 
Aku dan Diana memang sering bertukar kabar. Sering juga liburan bersama. Entah mengapa aku lebih cocok jika ngobrol atau bertukar cerita dengannya dibandingkan dengan Rima. Selalu nyambung jika diajak bahas apa pun. Mungkin karena dia mandiri juga dan tak sering merepotkan jadi aku merasa lebih nyaman. 
 
Beberapa kali dia memang pernah pinjam duit puluhan juta tapi selalu dikembalikan tepat waktu tak seperti Rima yang hanya pinjam ratusan ribu tapi berbulan-bulan belum balik. 
Alasannya cuma itu-itu saja, uangnya kepakai buat beli bayar cicilan kursi roda ibu lah, buat beli vitamin ibu lah, buat kontrol ibu atau lainnya yang entah benar entah salah. 
 
"Kemarin dia juga mau pinjam duit seratus lima puluh ribu. Katanya mau buat bayar utang Bu Saniah. Tapi nggak aku kasih. Maksudku baik ini biar dia nggak ketergantungan. Kalau pinjam berapa saja selalu aku kasih, dia bisa keenakan nanti," cerita Diana lagi dan aku pun mengiyakan keputusan baiknya. Memang nggak perlu dipinjami supaya nggak ketergantungan lagi. 
 
"Risa barusan juga cerita katanya kemarin si Rima mau pinjam duit dengan nominal sama sepeti yang kamu sebutkan itu, cuma dia nggak kasih. Bagus lah biar anak itu bisa belajar mandiri dan nggak bergantung pada orang lain." 
 
"Benar, Mas. Kita kompak saja nggak mau kasih pinjaman, biar Rima tahu bagaimana caranya berhemat dan menabung. Setidaknya untuk kebaikan dia juga, kan? Sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak bisa pakai tabungan," ucap Diana lagi. 
 
"Ibu selalu saja menjadi tameng padahal yang boros justru dia sendiri," ucapku. Diana mengiyakan juga. Berarti  memang dia pemboros. 
 
"Rima bilang kalau beberapa hari ini sakit ibu tak seperti biasanya, Mas. Dia juga bilang kalau ibu nggak mau makan dari kemarin, dia pengen ketemu kita dulu, Mas. Menurutmu mengada-ngada nggak sih dia?" 
 
"Nggak usah didengerin lah. Dari dulu ibu nggak pernah begitu kalau sakit. Nggak manja. Rima saja mungkin yang pengen kita main ke rumah pakai bawa nama ibu segala. Dasar anak itu."
 
"Bahkan dia ngancam aku juga, Mas. Kalau hari ini nggak pulang, jangan sampai menyesal jika terjadi apa-apa sama ibu, begitu katanya. Aku kok jadi khawatir ya, Mas?" ucap Diana lagi dengan nada khawatir. 
 
"Kamu di mana sekarang? Rima juga ngomong begitu sama aku. Tapi sudah lah, bisa saja dia cuma menakut-nakuti, kan?"  
 
"Aku lagi di luar kota ada tugas kantor, Mas. Sekarang sih masih di hotel. Kalau kerjaan sudah selesai dua hari lalu cuma karena weekend, aku liburan sekalian. Kamu di rumah apa di mana, Mas?"
 
"Di rumah sama Risa dan anak-anak. Seharian jalan-jalan, shopping dan makan. Kenapa?" 
 
"Belum maghrib nih, Mas. Apa kita ke rumah ibu sekarang saja? Perasaanku jadi nggak enak begini," ucap Diana kemudian. 
 
Aku terdiam sejenak. Diana benar, sejak siang tadi sebenarnya perasaanku juga nggak enak tapi tak terlalu kurasakan karena melihat kebahagiaan istri dan kedua jagoan. Tapi setelah Diana bilang seperti ini, mendadak ada sesak dalam dada yang sulit kujelaskan mengapa.
 
"Yasudah, Di. Kita ke rumah ibu sekarang. Nanti ketemu di sana saja. Awas saja kalau Rima dusta. Bisa kumaki-maki dia nanti, ngerjain kakak sendiri. Sudah capek seharian mau istirahat sebentar saja terpaksa harus ke rumahnya," ucapku.
 
Diana pun mengiyakan lalu mengucap salam dan menutup ponselnya. 
 
"Ris, ayo ke rumah ibu sekarang. Perasaanku nggak enak, takut terjadi apa-apa," ucapku pada Risa yang masih asyik menikmati sinetron. 
 
"Ah, Mas. Nggak ikut deh. Capek banget aku hari ini, lagian anak-anak pasti juga nggak mau. Mereka masih asyik dengan mainan baru. Besok saja kan bisa? Sudah mau maghrib pula," ucap Risa kemudian. 
 
Kuhembuskan napas panjang. Risa memang selalu begitu, tak terlalu peduli dengan keluargaku. Tapi mau gimana, memang Rima juga yang salah selalu saja merepotkanku. 
 
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat sendiri, ya? Jaga anak-anak," ucapku pada Risa sembari tersenyum tipis. Dia mengangguk pelan, mengantarku sampai garasi. 
 
Kupacu mobil perlahan menuju rumah ibu. Entah mengapa, semakin dekat semakin berdebar jantungku. Mungkin kah terjadi sesuatu dengan ibu? 

Selengkapnya di KBM APP

Tangis Ibu Part 7


 
Continue reading

Tangis Ibu Part 6 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP


 

TANGIS IBU DI USIA SENJANYA

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
"Assalamu'alaikum, Mbak Diana. Tolong ke rumah sebentar saja. Sepuluh atau dua puluh menit pun tak apa. Ibu pengen lihat kamu sama Mas Oky, Mbak. Tolong, sakit ibu nggak seperti biasanya. Ibu nggak mau makan sebelum bertemu kamu dan Mas Oky," ucapku dengan tergugu. Air mataku benar-benar tumpah seketika. 
 
 
 
Suasana di seberang begitu ramai, entah di mana Mbak Diana saat ini. 
 
 
 
"Wa'alaikumsalam, Rim. Kamu ngomong apa? Nggak dengar, Rima. Lagi di tempat wisata sama anak-anak. Nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai hotel." 
 
 
 
Klik. Panggilanku dimatikan begitu saja olehnya. 
 
 
 
Astaghfirullah, Mbak. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini pada ibu padahal ibu sangat merindukanmu. Kenapa kamu lebih mementingkan keluarga Mas Gilang dibandingkan ibumu sendiri. Kenapa kamu tak pernah mau sedikit saja melihat dan membayangkan bagaimana pengorbanan ibu selama ini?
 
 
 
Air mataku tumpah. Benar-benar tak tahan lagi membayangkan bagaimana kerinduan ibu pada dua anaknya, anak yang hingga detik ini belum juga datang menemuinya. Padahal sudah berulang kali aku meminta untuk datang meski hanya beberapa menit saja. 
 
 
 
Apa yang harus kulakukan sekarang? Harus kah diam saja menunggu mereka datang atau apa? Aku tak mungkin meninggalkan ibu sendirian. Lagi-lagi aku diterpa kecewa dan kebingungan yang dalam. Tak tahu apa yang bisa kulakukan selain menangis dalam diam. 
 
 
 
Aku hanya bisa berusaha membesarkan hati ibu meski kutahu itu hanya sebuah kesiaan semata, karena pastinya firasat seorang ibu jauh lebih peka. Siapa anak yang tulus dan siapa yang penuh sandiwara dan hanya berpura-pura. 
 
 
 
Berulang kali kutelepon Mas Oky namun ponselnya tak aktif. Telepon Mbak Risa justru ditolak, entah ke mana mereka. Mungkin kah bersenang-senang di tengah kesakitan ibu? 
 
 
 
Kucoba cek status whatsapp Mbak Risa. Lagi-lagi dadaku terasa begitu sesak saat kulihat mereka terlihat begitu menikmati liburan dan makan di restoran mewah. Aneka masakan seafood terhidang di meja makan. Mereka tampak begitu menikmati dan foto bersama dengan senyum bahagia. 
 
 
 
Kutuliskan sebuah komentar di sana. Rasanya begitu nelangsa melihat mereka tertawa bersama di tengah kesakitan dan kerinduan ibu yang begitu dalam. 
 
 
 
|Mbak, tolong bilang sama Mas Oky. Ibu ingin bertemu. Ibu sakit keras, Mbak.| 
 
 
 
Tak ada ceklis biru di sana meski Mbak Risa kulihat masih online. Pesan yang kukirimkan masih abu-abu, mungkin malas untuk membaca apalagi membalasnya bahkan saat dia sudah offline. 
 
 
 
Astaghfirullah, sabar Rima ... sabar. Semua demi ibu. Kamu harus kuat, jangan menyerah gitu aja. Anggap saja kedua kakakmu adalah ujian yang mau tak mau harus kamu selesaikan. Kamu harus terus berusaha mengambil hati kedua kakakmu agar mau menjenguk ibu. Ibu begitu merindukan mereka. Ibu ingin melihat wajah kedua anaknya. 
 
 
 
Tak putus asa, aku kembali menghubungi Mas Oky namun masih tak aktif. Dengan tangan gemetar kukirimkan pesan untuknya. Jika masih tak mau menjenguk ibu, biar lah. Mereka semua akan menyesal sendiri di kemudian hari. 
 
 
 
|Mas, ibu nggak mau makan sebelum melihat kamu dan Mbak Diana datang. Sakit ibu makin parah karena dari kemarin nggak makan apa-apa. Ibu beneran sakit, Mas. Tolong jenguk ibu berapa menit saja terserah kamu. Sudah berapa bulan kamu nggak datang ke rumah? Coba ingat-ingat. Kasihan ibu, aku nggak tega melihatnya seperti sekarang.| 
 
 
 
Tak selang lama kulihat Mbak Risa menelepon. Mungkin dia sudah lapor Mas Oky tentang kondisi ibu. Syukur lah, semoga saja mereka segera datang ke rumah.
 
 
 
"Rima! Ngapain sih kamu ganggu dari tadi. Aku sudah bilang kan kalau weekend aku nggak mau diganggu? Waktunya liburan dengan keluarga kecilku. Lagipula ibu memang sering sakit, kan, Rim? Tensinya sering naik. Biasanya minum obat dari warung juga sembuh!" Mas Oky terdengar begitu kesal. 
 
 
 
Air mataku kembali luruh, membasahi pipi. 
 
 
 
"Ya Allah, Mas. Ibu sakit dari kemarin nggak mau makan. Kamu malah enak-enakan liburan. Liburan kan bisa kapan-kapan tapi ibu-- 
 
 
"Makanya bawa ke dokter, Rima! Kenapa? Nggak punya duit juga? Kamu itu harusnya menyimpan uang, anggap saja buat bayar kontrakan bulanan. Nah kalau ibu sakit begini kamu bisa pakai uang itu. Sudah numpang di rumah ibu gratis tapi seolah lepas tangan saat ibu sakit!" 
 
 
 
Sesak. Perih dan terluka. Tega sekali Mas Oky mengatakan hal yang begitu menyakitkan ini pada adik kandungnya sendiri. Bukannya aku tak sanggup merawat ibu, aku hanya menyampaikan pesannya untuk melihat kedua anaknya saja. Tapi lagi-lagi tanggapan Mas Oky dan Mbak Diana tak jauh beda. Beranggapan bahwa aku terlalu perhitungan dalam memberikan perawatan untuk ibu.
 
 
 
"Terserah kamu, Mas. Kalau memang kamu nggak mau datang. Jangan menyesal di kemudian hari jika terjadi apa-apa dengan ibu. Aku sudah berusaha memberitahumu. Assalamu'alaikum." 
 
 
 
Kumatikan ponsel setelah mengucapkan salam. Rasanya percuma memintanya segera datang karena Mas Oky pasti akan menomor sekiankan ibu dan aku. 
 
 
 
Dia tak pernah peduli dengan tangis ibu. Dia tak peduli bagaimana sakitnya hatiku dan perihnya luka ibu. Yang dia pikirkan hanya kesenangannya sendiri. Egois memang, namun begitu lah dia dan istrinya. Sama saja tak pernah menganggapku dan ibu ada. 
 
 
 
Jika membutuhkan pertolongan kami saja mereka sering datang, setelah mendapatkan kemauannya mereka pergi dan menghilang. 
 
 
 
Gegas kutelepon Mas Adam, memintanya untuk kerja setengah hari saja. Aku benar-benar takut ibu kenapa-napa. Hanya Mas Adam yang selalu menenangkan hatiku di saat gundah gulana, memikirkan Mas Oky dan Mbak Diana yang tak pernah berubah sedari dulu. 
 
 
 
Buru-buru aku mencuci muka. Acara goreng menggoreng tak jadi kulanjutkan. Aku ingin selalu bersama dan di dekat ibu saat ini. Menjaganya, memijit tangan dan kakinya serta menceritakan sesuatu yang membuat hatinya bahagia. Aku tak ingin kehilangan momen berharga bersamanya. 
 
 
 
Kubuka pintu perlahan dengan membawa semangkuk bubur ayam. Jika ibu enggan mengunyah semoga bubur ini cukup mudah ditelannya. Biasanya ibu sangat suka dengan kuah bubur ayam yang konon menggugah selera. 
 
 
 
"Bu ... makan bubur ayam dulu ,ya? Rina suapi supaya ibu lekas sembuh," ucapku menahan serak dan isak. Sungguh, tak tega melihat wajah ibu yang menyimpan banyak beban dan duka. Entah sejak kapan ibu lebih sering memejamkan mata. Mungkin hanya saat salat saja dia membuka kedua matanya. Dia meminta bantuanku untuk memakaikan kaos kaki dan salat dengan berbaring di atas ranjangnya. 
 
 
 
"Ibu ...." Kugoyangkan lengannya perlahan. 
 
 
 
Dia membuka kedua matanya, menatapku beberapa saat lalu menitikkan air mata. Wajah teduh itu yang dulu berjuang sekuat tenaga mengandungku sembilan bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, merawatku sepenuh cinta hingga dewasa dan kini dia mulai menua. 
 
 
 
Kuusap kristal bening di kedua sudut matanya yang menua. Senyum itu ... tangis itu ... dan wajah itu. Selalu membuat hari-hariku penuh warna, sekuat apa pun aku berusaha untuk membahagiakan dan merawatnya, tak pernah bisa menebus pengorbanannya, bahkan mungkin pengorbananku ini hanya seujung kukunya saja. 
 
 
 
"Rima ... kakakmu nggak datang, kan?" tanyanya lirih. Air mataku kembali tumpah meski sudah berusaha kubendung sedemikian rupa. 
 
 
 
Aku bahkan tak memiliki daya untuk menjawab pertanyaan ibu. Hanya tangis dan gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.  
 
 
 
Ibu menyeka kedua pipiku yang basah lalu tersenyum begitu manis. Senyum yang tak akan pernah kulupa sepanjang hidupku. 
 
 
 
"Jangan menangis, Rima. Kamu anak terhebat yang ibu punya. Kamu anak shalehah. Ibu sangat bersyukur memiliki anak sepertimu. Doa ibu tak pernah putus untukmu, Rima. Esok atau lusa kamu pasti bahagia." 
 
 
 
Kupeluk ibu dengan tangis yang semakin keras terdengar, bahkan aku tak sadar jika Mas Adam sudah duduk di sebelahku. Memijit kaki ibu perlahan. 
 
 
 
"Semoga Allah segera memberikan kalian keturunan, membuat hidup kalian mapan dan nyaman dan menjadikan keluarga kalian selalu dalam cinta, setia dan bahagia." 
 
 
 
Ibu kembali menitikkan air matanya. Meminta Mas Adam untuk membimbingnya mengucap syahadat. Tangisku semakin pecah saat menatap wajah ibu yang begitu tenang. Ibu telah pergi dengan seulas senyum yang menyejukkan. 
 
***
 
Nangissssss bayanginnya 😭😭


Selengkapnya di KBM APP ...

Tangis Ibu Part 6 di KBM APP




Continue reading

Tangis Ibu Part 5 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP


Jangan lupa subscribe sebelum membaca ceritanya, ya, Kak. Boleh juga tinggalkan love dan komennya. Terima kasih 💕  

 
TANGIS IBU DI USIA SENJANYA
 
{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}
 
Ibu memintaku untuk membawanya pulang ke rumah, untuk menghemat biaya. Ibu begitu pengertian, tahu keadaan ekonomiku yang tak baik-baik saja. Terkadang, aku merasa gagal menjadi anak untuknya. Aku tak bisa diandalkan dari segi apa pun. Bahkan sekadar memenuhi keinginan ibu untuk makan jajan ini itu saja terkadang harus kutunda, menunggu Mas Adam gajian tiap sabtu. 
 
 
 
Iri. Kadang begitu lah yang kurasakan tiap kali melihat status whatsapp Mbak Diana dan Mbak Risa yang sering jalan-jalan, makan di restoran atau shopping di mall. Fashion mereka berkelas dan branded, sementara aku hanya daster lusuh yang sudah pudar warnanya. Namun tiap kali melihat peluh yang menetes di dahi Mas Adam, semua iri itu lenyap seketika. 
 
 
 
Aku merasa sangat beruntung memiliki suami sepertinya yang perhatian, penuh kasih dan tanggung jawab pada keluarga. Begitu menyayangiku bahkan sangat menghormati ibu sebagai mertuanya. Dia yang sering memintaku untuk menanyakan keinginan ibu. Dia yang selalu berusaha mewujudkan permintaan ibu meski harus ditukar dengan peluh di dahinya, dengan tenaga dan rasa lelahnya. 
 
 
 
"Hanya ibu yang kita miliki saat ini, Dek. Bahagiakan dia selama dia masih ada. Karena ridhonya akan membuat hidup kita lebih tenang dan bahagia. Ibu adalah kunci surga kita, surga di dunia kita. Ada nama kita di setiap doa dan sujudnya. 
 
 
 
Tak sepadan rasanya membalas untaian doa-doa di tengah isaknya sekadar dengan menuruti keinginannya yang tak seberapa itu. Sabar dan ikhlas lah, agar hari-hari tua ibu merasa tenang bersamamu."
 
 
 
Pesan Mas Adam waktu itu selalu aku ingat. Karena itu pula sekarang aku tak pernah lagi membahas masalah ibu pada kedua kakakku. Aku akan merawatnya sendiri, karena tak semua anak dikaruniai hidayah dan hati yang terbuka untuk merawat ibunya. 
 
 
 
Biar saja kedua kakakku tenggelam dalam dunianya sendiri jika memang tak mau ikut campur masalah ibu, yang pasti aku sudah berulang kali mengingatkan. Namun yang kudapatkan hanya lah makian. 
 
 
 
Kulihat ibu masih terbaring di pembaringan saat kubuka pintu kamarnya. Sepertinya ibu sudah sempat membuka jendela kamarnya, mungkin kembali mengantuk hingga dia balik ke pembaringan. 
 
 
 
Kuperiksa keningnya masih saja demam. Sudah tiga hari ini belum juga turun. Aku ingin mengajak ibu ke klinik lagi, namun ibu selalu menolaknya. Dia hanya ingin melihat Mbak Diana dan Mas Oky datang menjenguk, katanya. Sesak sekali dadaku tiap kali ibu mengatakan itu. Tapi apa mau dikata, tiap kutelepon tak pernah mereka angkat bahkan sesekali sengaja ditolak. 
 
 
 
Kukirimkan pesan di whatsapp, Mbak Diana dan Mas Oky kompak menjawab belum bisa menjenguk ibu karena masih sibuk tugas di kantor. Mas Oky sibuk dengan promosi jabatan sementara Mbak Oky masih ke luar kota. Sudah selesai tugas kemarin sore namun dua hari berikutnya ingin sekalian liburan, katanya. 
 
 
 
Mereka tak terlalu peduli dengan keadaan ibu. Mungkin mereka pikir, sakit ibu seperti sakit-sakit sebelumnya. Yang akan sembuh setelah minum obat warung. Padahal aku merasa, sakit ibu kali ini sangat berbeda. Ibu benar-benar merindukan kehadiran kedua anaknya itu. Mungkin di detik-detik terakhir dalam hidupnya. 
 
 
 
Sesekali kulihat ibu terbatuk, namun kedua matanya masih saja terlelap. Pikiranku makin tak tentu, apalagi saat kulihat kue bolu di atas meja sejak semalam masih utuh tak tersentuh, padahal ibu bilang akan memakannya setelah tilawah pasca salat isya'. 
 
 
 
"Bu ... Rima antar ke klinik lagi saja, ya? Rima nggak tahu detail kondisi ibu jika di rumah. Tak tahu juga obat-obat yang bisa membantu menyembuhkan ibu," ucapku lirih. Bulir kecil menetes di kedua pipi. 
 
 
 
Ibu tak menjawab pertanyaanku, hanya menggelengkan kepala perlahan. 
 
 
 
"Kenapa bolunya nggak dimakan, Bu? Apa nggak enak?" 
 
 
 
"Bukannya nggak enak, Rima. Ibu lagi nggak nafsu makan sekarang," ucap ibu masih dengan mata terpejam.
 
 
 
"Ibu bilang pengen makan bolu?" 
 
 
 
"Iya kemarin tapi pas udah datang mendadak mual. Jadi ibu nggak makan sedikit pun. Buat kamu saja sama Adam, ya? Jangan sampai berjamur dan terbuang sia-sia. Mubazir."
 
 
 
"Iya, Bu. Nanti Rima simpan buat Mas Adam. Sekarang ibu pengen makan apa? Harus makan, ya, Bu. Biar cepat sehat," ucapku lagi. Kuusap kening ibu yang penuh dengan keriput. 
 
 
 
Ibu hanya menggeleng perlahan, pertanda tak menginginkan apa-apa. 
 
 
 
"Makan dong, Bu. Nanti Rima suapin, ya? Bubur ayam mau? Apa ibu mau teh hangat? Atau susu? Rima bikin dulu, ya?" tawarku lirih sembari memijit lengan kanan ibu. Kuselimuti sebagian tubuh ibu agar sedikit lebih hangat.
 
 
 
"Bu ...." panggilku lagi. Kedua sudut ibu melengkungkan senyum, namun matanya belum juga terbuka. 
 
 
 
"Kamu lanjutkan goreng tempe sama tahunya saja, Rima. Ibu sendirian nggak apa-apa. Semangat untuk cari rejeki halalNya agar kamu dan Adam tak selalu dihina. Ohya, kamu sudah minta kakakmu untuk menjenguk ibu, kan?" tanya ibu lirih. 
 
 
 
Kuhembuskan napas panjang. Bingung sekali apa yang harus kukatakan pada ibu. Harus kah aku jujur atau kembali menutupi ketidak pedulian mereka pada ibu? Jika jujur, ibu pasti sangat terluka. Aku tak ingin memperparah luka di hatinya. 
 
 
 
"Sudah, Bu. Mbak Diana masih di luar kota ada urusan kantor, sementara Mas Oky masih begitu sibuk karena baru dipromosikan jabatan, Bu. Mungkin sekarang baru naik jabatan, entah lah. Rima juga nggak terlalu paham," ucapku lirih. 
 
 
 
Ibu hanya mengangguk perlahan. 
 
 
 
"Semoga kedua kakakmu tak terjerumus dengan kemewahan dunia terlalu dalam." 
 
 
 
Hanya itu yang ibu ucapkan. Kutawarkan air putih untuk ibu namun dia jua tak mau. 
 
 
 
"Sudah, Rim. Ibu mau istirahat sebentar, rasanya lelah sekali. Ngantuk, semalaman ibu nggak bisa tidur. Kamu goreng-goreng saja biar bisa kamu titipkan ke Mak Niah. Lumayan kan masih cukup pagi ini," ucap ibu lagi. Aku pun mengangguk pelan, menuruti nasehat yang ibu berikan.
 
 
 
Gegas kumelangkah ke dapur untuk membuat mendoan, ketela goreng, bakwan dan tahu goreng untuk dititipkan ke warung bakso Bang Rojak dan warung nasi Mak Niah. Semoga saja laris dan tak bersisa seperti kemarin. Setidaknya bisa membelikan buah-buahan atau makanan yang ibu inginkan. 
 
 
 
Aku mulai meracik kobis, wortel, kecambah dan tepung untuk membuat bakwan goreng. Tak lupa bumbu-bumbu halusnya. Setelah memasukkan adonan ke penggorengan kukecilkan kompor, kembali memeriksa keadaan ibu. Alhamdulillah ibu masih mendengar suaraku, sesekali memberikan nasehatnya kembali. Nasehat yang sama seperti sebelumnya. 
 
 
 
Apa ibu sudah mulai tak ingat dengan ucapan sebelumnya? Kenapa ibu mengulang-ulang kalimat yang sama tiap kali aku datang menemaninya?
 
 
 
"Ibu mau makan apa? Nanti Rima belikan, Bu. Buah mau?"
 
 
 
Ibu menggeleng pelan.
 
 
 
"Ibu harus makan walau sedikit ya, Bu? Gimana ibu cepat sembuh kalau ibu nggak mau makan?" 
 
 
 
Ibu terlihat menghembuskan napas panjang. 
 
 
 
"Ibu nggak mau makan sebelum kedua kakakmu datang, Rima." Dadaku kembali berdebar mendengar jawaban dari ibu. 
 
 
 
'Oh ibu, Rima nggak tahu mereka akan datang atau nggak untuk menjenguk ibu.' 

Selengkapnya di KBM App ...

 
***
 
Continue reading

Sabtu, 22 Oktober 2022

Tangis Ibu Part 4 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP



TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 4

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}

Aku naik ojeg menuju rumah Mbak Diana. Sekitar dua puluhan menit aku sudah sampai sana. Kulihat ibu masih duduk di teras sendirian. Ibu terlihat menyeka kedua sudut matanya yang basah. 



"Ibu ... kenapa ibu nggak bilang Rima dulu kalau mau ke rumah Mbak Diana?"  tanyaku saat sampai di sebelah ibu.



Ibu mendongak ke arahku dengan senyum yang begitu dipaksakan. Aku tahu itu. 



"Kakakmu benar-benar keterlaluan, Rim. Terlalu perhitungan sama saudara sendiri. Padahal dia sangat mapan begini. Sesak dan sakit hati ibu melihat kamu lari ke sana-sini cari pinjaman, duit segitu bagi Mbak Diana cuma gajinya setengah hari." 



Ibu kembali menitikkan air matanya. Kulihat Mbak Diana ke luar dengan dandanan rapi seperti mau kondangan. 



"Selalu begitu ya, Bu. Ibu memang selalu membanding-bandingkan aku dengan Rima. Aku bukan bank yang banyak duitnya, Bu. Nggak patut juga kalau Rima terlalu bergantung padaku," ucap Mbak Diana dengan nada tak enak terdengar. 



"Bergantung gimana, Din? Bahkan kamu dan Oky itu tempat terakhir Rima setelah berusaha ke sana ke mari nggak dapat pinjaman. Harusnya kamu sadar, Din. Dulu saat bapak masih ada, kamu dan Mas Oky bisa sekolah tinggi. Sekarang bisa kerja di perusahaan besar, sementara Rima? Dia hanya lulus SMA karena bapak sudah tiada. Ibu tak sanggup menyekolahkannya. Bahkan dia ngajar sembari kuliah, sekarang? Terpaksa dia cuti kuliah juga demi merawat ibu. Harusnya kamu bisa membantunya, saudara harus bisa saling menjaga dan membantu satu sama lain. Bukan malah membiarkan dan mengabaikan," ucap ibu diiringi bulir bening di kedua pipinya.   


"Oh jadi ibu ke sini hanya ingin ceramah? Meninggikan Rima dan menjatuhkan aku?" 



"Bukan begitu, Din. Hanya saja ibu ingin  anak-anak ibu saling mengasihi. Bukan egois dan tak peduli seperti ini."



"Ibu kalau ke sini cuma mau ceramah, mending pulang saja. Aku mau kondangan juga sama teman kantor," ucap Mbak Diana sembari membuka pintu mobil. Tanpa banyak bicara kakak perempuanku itu melajukan mobilnya begitu saja membelah jalanan yang masih cukup lengang. 



"Astaghfirullah ...." Ibu kembali beristighfar dan menghembuskan napas sesak. Kedua matanya terpejam lalu jatuh begitu saja. 



Satpam di rumah Mbak Diana membantu membaringkan ibu ke sofa ruang tamu. 



Aku cukup kebingungan karena tak ada siapa-siapa selain Pak Yanto dan Mbak Ina di rumah. Dua anak Mbak Diana juga masih di sekolah. Dengan modal celengan gerabah tadi aku bisa memesan taksi dan membawa ibu ke klinik terdekat. 



|Mbak, dari rumah Mbak Diana tadi ibu masuk klinik Husada. Sepertinya hipertensi ibu kambuh lagi. Mbak bisa ke sini, kan nanti?| 



Pesan untuk Mbak Diana hanya ceklis satu. Aku kirimkan pesan yang sama pada Mas Oky. Semoga salah satu di antara mereka bisa menjenguk ibu di klinik setelah mereka pulang nanti.



"Rim, nanti kalau ibu pergi, tolong selesaikan utang almarhum bapak, ya? Bagaimanapun juga hutang wajib dibayar karena tanggungannya sampai akhirat. Kamu tahu itu, kan?"



Suara ibu terdengar begitu lirih. Sesekali matanya terpejam entah apa yang kini dia rasakan. Sakit dalam tubuhnya atau sakit dalam hatinya.



"Ibu tak perlu khawatir soal hutang bapak dan ibu, InsyaAllah aku dan Mas Adam akan berusaha melunasi semuanya sebanyak apa pun itu. Yang penting sekarang, ibu jangan mikir aneh-aneh dulu. Ibu lekas sembuh, ya?" ucapku sedikit serak menahan isak. 



"Kamu yang sabar menghadapi kedua kakakmu, ya, Rin. Doakan saja agar mereka bisa menghargai kamu dan Adam," ucap ibu lagi. Ibu menyeka kedua pipinya yang basah.



"Yang penting mereka menghargai dan bisa menyayangi ibu itu sudah cukup, Bu. Kalau untuk Rima dan Mas Adam tak masalah jika mereka memang tak menganggap kami saudara. Karena toh kami memang terlalu jauh berbeda," ujarku lirih. 



Ibu mengusap lengan kiriku perlahan. 



"Kamu anak yang baik, Rima. InsyaAllah kelak kamu akan bahagia." 



Lagi-lagi kudengar doa tulus meluncur dari bibir ibu. 



"Nanti kalau rumah peninggalan bapak dijual, bilang sama kakakmu untuk melunasi hutang almarhum bapak dulu sebelum dibagi rata." 



Aku hanya mengangguk pelan sembari tersenyum menatap manik mata ibu yang masih berkaca-kaca.



"Catatan hutang bapak ada di dalam laci lemari ibu. Kamu ambil saja dan simpan di lemarimu agar tak hilang." 



Aku kembali mengangguk. 



"Ibu, nanti sorean Rima belikan martabaknya ya? Sekarang sepertinya belum buka," jawabku mengalihkan pembicaraan ibu. Aku hanya ingin sedikit mengabulkan permintaan sederhana ibu dan mengalihkan pikiran buruknya tentang Mbak Diana dan Mas Oky. Kulihat ibu tersenyum sembari mengangguk perlahan. 



"Ibu capek, Rim. Capek menghadapi kedua kakakmu yang tak pernah mau mengerti dan mau menang sendiri. Capek pada mereka yang selalu menghinamu dan membuatmu sakit hati. Ibu ingin marah tapi tak mampu. Begitu lah hidup, Rima. Bila kita memiliki banyak harta, tetangga pun akan mengaku saudara. Namun sebaliknya, jika kita tak memiliki banyak uang, saudara kandung sendiri pun enggan mengakui dan menyapa." 



Lagi-lagi ibu menyeka kedua pipinya yang begitu basah. Aku menatapnya dengan pandangan yang entah. Rasanya sakit sekali dadaku melihat ibu begitu terluka. Aku tak tega melihatnya selalu dihina bahkan diacuhkan anaknya sendiri, namun apa mau dikata, berulang kali aku meminta agar Mbak Diana dan Mas Oky untuk lebih perhatian pada ibu, mereka justru menuduhku macam-macam. Seolah aku hanya membuat drama bahwa ibu sedang tak baik-baik saja.



"Ibu ... Mbak Diana sama Mas Oky memiliki jabatan penting di kantornya, wajar jika mereka sibuk. Mungkin nanti kalau sudah tak sibuk, mereka akan menjenguk ibu. Kalau Rima, ibu tahu sendiri kan kalau Rima memang tak punya pekerjaan. Jadi wajar bila Rima selalu banyak waktu untuk ibu," ucapku berusaha membesarkan hatinya. 



Ibu hanya menggeleng pekan sembari tersenyum tipis. 



"Memang begitu, Rima. Sudah lumrah, jika manusia dibutakan oleh kemewahan dunia maka mereka akan lupa dengan kehidupan di akhirat sana. Kamu jangan begitu, ya? Dunia memang penting namun akhirat jauh lebih penting. Jangan terbalik." 



Aku kembali mengangguk. Perasaan takut kembali menyesaki hati. Entah mengapa, namun yang pasti kurasakan getaran lain di setiap pesan yang ibu sampaikan. Tak biasanya ibu sepasrah dan selelah ini. Tak seperti biasanya ibu seterluka ini. 



Biasanya aku selalu melihat senyum dan tawa ibu meski kedua kakakku sering kali menyakiti hatinya. Ibu bisa menutupi kecewa dan dukanya terhadap Mbak Diana dan Mas Oky di depanku. Bersikap biasa saja meski tersandung pilu. Tapi kali ini ibu berbeda. Mengapa? Ini bukan sebuah firasat jika ibu akan pergi selamanya, bukan? 


***
Jangan lupa love dan komennya ya, Kakak 💕💕

Selengkapnya di KBM APP

Tangis  Ibu Part 4 


 

Continue reading

Tangis Ibu Part 3 Karya NawankWulan tayang full di KBM APP

 

TANGIS IBU DI USIA SENJANYA 3

 

{Banyak anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu}

 

"Assalamu'alaikum, Mbak Dian. Maaf kalau-- 

 

"Wa'alaikumsalam. Oh kamu yang telepon, Rim? Kirain siapa. Pakai nomor siapa nih?" tanya Mbak Diana cepat. 

 

"Iya, Mbak. Pakai ponselnya Bu Saniah karena aku nggak ada pulsa," jawabku jujur. Berdebar jantungku tiap kali menelepon Mbak Diana. Aku harus menyiapkan hati seluas samudera agar tak terlalu terluka jika mendapatkan hinaan atau omelannya. 

 

"Ada apa, Rim? Cepet ngomongnya, aku mau meeting," ucap Mbak Diana lagi. Selalu saja begitu tiap kali aku meneleponnya. Aku tak paham itu memang beneran atau sekadar alasan. 

 

"Emm ... aku-- 

 

"Duit lagi?" tebak Mbak Diana singkat dan cepat. 

 

"Kamu telepon aku itu cuma kalau butuh duit ya, Rim? Kalau nggak butuh ya nggak pernah nelepon. Nggak ada duit, aku juga pusing mau bayar SPP anak-anak sama adiknya Mas Gilang," ucap Mbak Diana ketus sembari menutup teleponnya. 

 

Astaghfirullah ... aku hanya bisa beristighfar lirih. Tak terasa air mata mulai menitik di kedua pipi. Sementara ibu tampak berkaca-kaca. Dia pasti tahu tanpa harus kujelaskan secara detailnya. 

 

"Saya pinjam buat telepon Mas Oky dulu ya, Bu?" pintaku pada Bu Saniah yang terlihat sangat gusar. 

 

"Maaf ya, Bu." Aku mencium punggung tangannya sebagai ucapan maaf karena sudah merepotkannya. 

 

"Assalamu'alaikum, Mas Oky. Aku buru-buru, Mas. Butuh uang 150ribu buat bayar hutang ke Bu Saniah. Kasihan sekarang Dino masuk klinik karena kecelakaan. Tolong, Mas. Transfer segera, penting banget soalnya," ucapku buru-buru, tak enak hati jika pulsa Bu Saniah banyak terkuras karena panggilan telepon ini. Selain itu juga biar Mas Oky segera mengirimkan uang itu untuk berobat Doni. 

 

"Wa'alaikumsalam. Maaf, Rim. Ini aku, Risa. Kakakmu masih jagain anak-anak di kidsland. Mumpung kakakmu cuti jadi bisa sedikit liburan. Kamu minta Diana saja deh, kami sedang sibuk jadi nggak bisa bantu kamu." 

 

Klik. Ponsel ditutup begitu saja. Aku hanya mampu menggeleng pelan. Mau tak mau aku telepon Mas Adam saja barang kali dia bisa pinjam uang ke mandornya, seperti biasanya. 

 

"Mas ... Bu Saniah meminta uangnya sekarang, soalnya Doni masuk klinik karena kecelakaan. Tolong cariin uang, Mas. Aku bingung mau pinjam ke siapa sekarang," ucapku gugup sampai lupa tak mengucap salam. 

 

"Innalillahi ... pinjam ke tetangga dulu, Dek. Bilang saja, nanti pulang kerja mas balikin. Mas bisa pinjam bos Har dulu," ucap Mas Adam cepat. 

 

"Tapi apa ada yang percaya, Mas?" 

 

"Coba dulu saja. Kalau memang nggak ada yang minjami nanti biar Mas minta Bos Har transfer ke rekening kamu." 

 

Aku pun mengangguk pelan dan menutup telepon begitu saja. Buru-buru ke rumah Mas Anhar pemilik counter pulsa barang kali dia mau kasih pinjam terlebih dulu. Saat seperti ini, aku sudah tak memikirkan malu. 

 

Caci maki sudah biasa kuterima, mungkin aku sudah mulai kebal dengan kata-kata menyakitkan itu. Tak tetangga, tak saudara, semua sama saja. Sering kali menghinaku dan Mas Adam sesuka mereka. Hanya karena hidup kami sangat pas-pas an, tak bisa seperti kedua kakakku yang sangat mapan. 

 

"Mbak Rima!" Panggilan Mas Anhar membuatku mempercepat langkah. 

 

"Mau pinjam uang 150ribu, ya?" tanyanya kemudian. Aku tersenyum seketika. 

 

"Ini, Mbak. Barusan Mas Adam kirim pesan buat pinjami mbak Rima duit dulu," ucapnya sembari menyerahkan dua lembar uang di atas etalasenya. 

 

"MasyaAllah. Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Semoga rejekinya makin lancar ya, Mas. Pinjam dulu nanti sore InsyaAllah Mas Adam kembalikan," ucapku. 

 

Mas Anhar menganggukkan kepalanya pelan. Gegas kuhampiri Bu Saniah yang sudah berjalan ke arahku. 

 

"Alhamdulillah dapat, Bu. Maaf sudah menunggu lama. Semoga Dion nggak kenapa-kenapa ya, Bu. Lekas sembuh pokoknya." 

 

"Iya, Mbak. Terima kasih doanya, ya. Maaf juga mbak terpaksa diminta sekarang." 

 

Bu Saniah menganggukkan kepalanya pelan. 

 

"Nggak apa-apa, Bu. Wajar begitu, ibu memang sedang butuh." 

 

Bu Saniah pamit untuk ke pangkalan ojek, gegas pergi ke klinik yang tak jauh dari sekolah anak laki-lakinya.

 

Kuhembuskan napas panjang, cukup lega karena sudah mendapatkan uang untuk Bu Saniah. Kepalaku mendadak pusing memikirkan kejadian tadi. 

 

Teganya Mbak Diana mengabaikan permintaanku, padahal untuk biaya sekolah adik Mas Gilang yang puluhan juta itu dia selalu usahakan ada. Padahal ibu Mas Gilang masih ada dan mendapat pensiunan tiap bulan. Sementara ibu, dia tak memiliki apa-apa selain aku yang juga tak jauh beda. 

 

Kupercepat langkah menuju rumah. Sepertinya ibu sudah masuk ke dalam, tak terlihat di teras rumah seperti tadi saat kutinggalkan.  

 

"Assalamu'alaikum, Bu." 

 

Tak terdengar jawaban salam darinya. Hati mulai tak tenang apalagi saat kupanggil berulang kali ibu tak juga menjawab panggilanku. 

 

 

"Ibu ...." Hening. Masih tak ada jawaban. Kubuka kamarnya. Tak ada ibu di sana. Di kamarku pun kosong. Aku cek kamar mandi juga nggak ada. Gegas kutengok halaman belakang, tak ada juga. 

 

Astaghfirullah ... ibu ke mana? Aku kembali berlari ke teras rumah. Nggak ada juga. Aku cari keliling rumah pun nggak ada. Entah di mana ibu, bisa secepat itu menghilang. 

 

Aku kembali ke kamar untuk mengambil ponsel second yang kubeli dua bulan lalu, saat mendapat gaji dari mengajar dulu. Dengan gemetar kutekan nama Mas Adam. 

 

"Mbak Rima. Mbak ..." Panggilan seseorang menghentikan jemariku. Gegas kuberlari ke sumber suara.

 

"Anis? Ada apa?" tanyaku cepat saat kulihat Anis sudah ada di teras rumah. 

 

"Mbak tadi aku lihat Budhe Sumi naik ojek," ucap Anis tiba-tiba. 

 

"Maksudmu gimana, Nis?" 

 

"Naik ojek, Mbak. Dia titipkan kursi rodanya di rumah ibu. Saat ibu tanya katanya mau ke rumah tante Diana," ucap Anis lagi. 

 

"Astaghfirullah, Ibu. Kaki dan tangan kirinya masih belum bisa digerakkan, kenapa pakai acara ke rumah Mbak Diana segala, nggak ijin aku dulu." 

 

Pikiranku mendadak kacau. Mau apa ibu ke rumah Mbak Diana? Dia kan masih kerja sekarang. Tadi juga bilang mau meeting, kan? 

 

"Aku pulang dulu, ya, Mbak. Tadi cuma disuruh ibu buat kasih tahu Mbak Rima soal kepergian Budhe Sumi," ucap Anis lagi. Dia mencium punggung tanganku lalu pamit pulang ke rumahnya. Aku hanya mengangguk pelan sembari mengucapkan terima kasih. 

 

Aku pun kembali ke dalam rumah. Membongkar celengan dari gerabah itu untuk menjemput ibu, sekalian membelikannya martabak telur untuknya. Celengan yang baru kuisi beberapa minggu lalu, tak apa lah kuambil sekarang meski kuyakin isinya tak seberapa. Setidaknya aku sudah berusaha mengabulkan permintaan ibu.  

 

Semoga masih ada sisa lebih untuk modal jualan. Benar kata Mas Adam, aku bisa membuat gorengan atau keripik untuk dititipkan ke warung-warung. Berapa pun hasilnya nanti, setidaknya memiliki penghasilan tanpa harus meninggalkan ibu di rumah sendirian. 

 

Selengkapnya di KBM APP


Tangis Ibu Part 4


 

Continue reading